I just share this illegally, I have it from my friend, and I'd like to share this SINS with all konosuba's lover, so if you really wanna support the Autor please buy it here => Amazon
Showing posts with label informasi. Show all posts
Showing posts with label informasi. Show all posts
[Download] Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! Scan Novel, English Pdf
KonoSuba, or Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! Give Blessings to This Wonderful World! began as a Japanese web novel series written by Natsume Akatsuki & was later adapted into a light novel series illustrated by Kurone Mishima. 15 volumes have been published since October 2013 by Kadokawa under their Kadokawa Sneaker Bunko imprint.
Iblis-Iblis Yang Mewakili 7 Dosa Besar
.
Nah kali ini kita akan membahas, siapa saja iblis-iblis yang bertanggung jawab terhadap 7 dosa ini.
1. Kebanggan atau Pride (superbia)
2. Rakus harta atau Greed (avaritia)
3. Nafsu Birahi yang berlebihan atau lust (luxuria)
4. Iri hati atau Envy (invidia)
5. Rakus makan/berlebihan dalam makan atau Gluttony (Gula atau gullia)
6. Amarah atau Wrath (ira)
7. Kemalasan atau Sloth(acedia)
Istilah - Istilah Unik dalam Dunia AKB48
Yang ngaku fans AKB48 wajib baca nih! ;;)
Didalam dunia AKB48 dan 48 Family, terdapat istilah - istilah unik yang biasa digunakan. Agar menjadi fans AKB48 dan 48 Family yang berdedikasi tinggi, sebaiknya kita mengenal istilah - istilah tersebut. Berikut adalah list istilah - istilah unik dalam dunia AKB48 & 48 Fams :
1.) Wota
Istilah yang saya gunakan sebagai judul dari blog ini sebenarnya sudah sangat familiar di telinga para fans AKB48 & 48 Family, lalu apa yang dimaksud dengan Wota ? Wota adalah penggemar berat yang sangat berdedikasi terhadap Idolnya, dalam konteks ini adalah AKB48 & 48 Fams. Wota adalah fans yang mencintai idolanya dengan segenap hati, bahkan mengikuti idola nya kemanapun dan dimanapun ia berada, wota juga merupakan fans yang tidak ragu mengorbankan uang, waktu, image demi idolanya. Puitisnya "Hidup dan Mati seorang Wota ada ditangan Idolanya"

2.) Wotagei
Gerakan khas para wota saat menonton pertunjukan idolanya (AKB48 & 48 Fams). Biasanya dapat berupa tarian khusus menggunakan light stick
3.) MIX Chant
Nah...istilah yang satu ini bisa dibilang menjadi hal yang terpenting saat menonton pertunjukan AKB48 & 48 Fams. "Chant" sendiri berari "sorakkan" dalam bahasa Inggris, Mix Chant merupakan kata - kata sorakkan yang disorakkan secara seragam, serentak dan ada standardnya oleh para fans. Jadi Mix Chant ini tidak boleh di sorakkan asal - asalan.Mix Chant dilakukan untuk memberikan semangat kepada Idola dan para fans.
Mix Chant ini sendiri di sorakkan sewaktu overture (sebelum idola memasuki panggung), sewaktu intro lagu (awal lagu), dan sewaktu lagu melambat. Mix chant berhenti ketika idol mulai bernyanyi. Mix chant ini tidak dilakukan ketika idol menyanyikan lagu pelan (mellow) atau ballad. Pada lagu yang di mulai secara tiba - tiba seperti "Heavy Rotation", Mix Chant di tunda sampai interlude (bagian instrumental).
Mix Chant terdiri dari beberapa variasi yang dikenal di kalangan wota. Sebenarnya terdapat 3 variasi Mix Chant, yang pertama adalah MIX dalam bahasa Inggris, kedua dalam bahasa Jepang, dan ketiga dalam bahasa Ainu. Mix pertama (B.Inggris) biasanya di sorakkan di overture,intro lagu, Mix kedua (B.Jepang) disorakkan pada lagu yang memiliki intro panjang seperti lagu "Ponytail to Shushu" , saat overture dan pada interlude pertengahan lagu, sedangkan Mix ketiga (B.Ainu) disorakkan di bagian interlude akhir sebuah lagu dan overture, Mix yang ketiga ini juga sangat jarang digunakan.
Berikut ini adalah Mix pertama (B. Inggris) yang menjadi Mix standar dikalangan wota AKB48 :
-) Aaaa.....Yossha Ikuzo !, Tiger, Fire, Cyber, Fiber, Diver, Viber, Jya Jya !
*) "Aaaa...Yossha Ikuzo !" (Ayo Mulai !) merupakan komando untuk memulai sorakkan
Mix kedua (B. Jepang) :
-) Aaaa...Mocch Ikuzo !, Torah, Hii, Jinzou, Sen-ii, Ama, Shindou, Kasento-tobi-jokyo !
Mix ketiga (B. Ainu) :
-) Aaa...Mocch Ikuzo !, Chape, Ape, Kara, Kira, Rara, Tusuke, Myahot-tsuke !
4.) Oshimen
Oshimen (推しメン) terdiri dari dua kata, yaitu "Oshi" dan "Men". Oshi berarti "Dukung/Support" dan Men adalah singkatan "Menba" (Member dalam bahasa inggris).Dengan demikian kata ini memiliki arti member yang paling anda dukung / sukai, mudahnya Oshimen berarti member favorit. Dalam banyak kasus, memang seorang fans bisa memiliki banyak member favorit, namun pasti dari banyak member tersebut ada satu member yang paling disukai atau tak tergantikan, inilah yang disebut dengan Kami-Oshi
5.) Oshihen
Adalah kondisi dimana Wota merubah oshi dari member satu ke member lainnya. Tindakan ini sering dianggap kurang sopan bagi mantan oshimen Wota tersebut, apalagi Wota melakukan oshihen pada Kami-Oshi.
6.) DD
Singkatan dari "Daremo Daisuki" yang maksudnya adalah "Saya Suka Semua". Diterapkan untuk Wota dengan Oshimen lebih dari satu di grup yang sama.
7.) MD
Singkatan dari "Minna Daisuki" (Saya suka semua orang 'member'), hampir mirip dengan DD, hanya saja seorang Wota dengan satu Oshimen (Kami-Oshi)
8.) Jikoshoukai
Self Introducion dari masing - masing member. Tentunya memiliki line / cara khusus untuk introduksi bukan sebuah keharusan bagi member AKB48 & 48 Fams, tetapi jika seorang member mempunyai jikoshoukai khas mereka masing - masing, maka akan memberi nilai lebih dimata fans.
9.) Kami7 (Kami Seven)
"Kami" berarti dewa. Istilah ini diciptakan para fans karena ada member - member yang menang ranking popularitas tujuh besar di Senbatsu General Election secara terus menerus dan tak tergoyahkan oleh member lain. Ketujuh orang tersebut adalah :
1.) Maeda Atsuko, AKB48 (Team A) *Telah Graduate dari AKB48

2.) Yuko Oshima, AKB48 (Team K)

3.) Shinoda Mariko, AKB48 (Team A)

4.) Watanabe Mayu, AKB48 (Team B)

5.) Tomomi Itano, AKB48 (Team K)

6.) Takahashi Minami, AKB48 (Team A)

7.) Haruna Kojima, AKB48 (Team A)

Nah..Ketujuh member diatas-lah yang disebut dengan Kami7. Namun dalam Senbatsu General Election 2 tahun terakhir muncul nama - nama baru, yang tiba - tiba merusak tatanan tradisional 7 besar tersebut, mereka adalah Kashiwagi Yuki (Team B) dan Rino Sashihara (HKT48)

*) Sashihara Rino sebelumnya adalah member AKB48, karena scandal rumornya dengan pacarnya, Sashi di kenakan hukuman "Restart" bersama HKT48
Dengan masuk nya kedua member tersebut, banyak fans yang mengubah / memplestkan istilah Kami7 menjadi Kami8 atau Kami9
Sekian dan terimakasih ;;) hoho
take from:
http://wota-akb48.blogspot.com/
All about SE WT19i and how to ROOT
GENERAL 2G Network GSM 850 / 900 / 1800 / 1900
3G Network HSDPA 900 / 2100 - WT19i
HSDPA 850 / 1900 / 2100 - WT19a
SIM Mini-SIM
Announced 2011, August
Status Available. Released 2011, October
BODY Dimensions 106 x 56.5 x 14.2 mm (4.17 x 2.22 x 0.56 in)
Weight 115 g (4.06 oz)
3G Network HSDPA 900 / 2100 - WT19i
HSDPA 850 / 1900 / 2100 - WT19a
SIM Mini-SIM
Announced 2011, August
Status Available. Released 2011, October
BODY Dimensions 106 x 56.5 x 14.2 mm (4.17 x 2.22 x 0.56 in)
Weight 115 g (4.06 oz)
AKB48 GIRLS : PACAR IMPIAN LELAKI
Kapten dari Team K AKB48 ini lahir di Mibu 17 Oktober 1988 silam. Yuko juga tergabung dalam grup sub unit Not yet. Bertinggi 152 Cm, Yuko Oshima pernah membintangi film layar lebar yang cukup terkenal di Jepang, Densen Uta. memiliki sifat yang energik dan sangat suka bercanda. saya jujur saja sebenarnya fans berat yuko-san hehe
Smart RAM Booster Pro 1.6 For Android Full Apk
yap aplikasi satu ini katanya sih lumayan buat meningkatkan RAM android, tapi menurut saya biasa saja sih. apa salahnya mencoba silakan di download ya di sini

how to download serial anime AKB0048 Next stage
Assalamualaikum...
pertama-tama sebelum memulai petunjuk cara downloadnya ijinkan saya menerangkan bagaimana langkah2 dan alat yang di butuhkan
1. nyalakan komputer anda
2. pastikan anda sudah tersambung dengan koneksi internet ( wajib )
3. lalu download IDM di sini
4. instal idm anda
5. kemuadian langsung saja pergi di sini
6. buka situs tersebut kemuadian tunggu flashplayer anda bereaksi
7. setelah tanda IDM untuk download muncul segera klik dan donload, tunggu hingga selesai.
pertama-tama sebelum memulai petunjuk cara downloadnya ijinkan saya menerangkan bagaimana langkah2 dan alat yang di butuhkan
1. nyalakan komputer anda
2. pastikan anda sudah tersambung dengan koneksi internet ( wajib )
3. lalu download IDM di sini
4. instal idm anda
5. kemuadian langsung saja pergi di sini
6. buka situs tersebut kemuadian tunggu flashplayer anda bereaksi
7. setelah tanda IDM untuk download muncul segera klik dan donload, tunggu hingga selesai.
Women’s Roles in the Late 19th Century
Authored by: Dorothy W. Hartman
"The average farmer’s wife is one of the most patient and overworked women of the time." The American Farmer, 1884
Introduction
Despite the growth of industry, urban centers and immigration, America in the late 19th century was still predominantly rural. Seven out of ten people in the United States lived in small towns with populations under 2500 or on farms in 1870. In Indiana, the 1880 census reported a population of almost 2 million residents, about 55 per square mile, 1,010,000 men and 968,000 women. About three out of four people lived in rural areas. Although much of the study done on woman’s roles during this period looks at the roles of the emerging urban middle class or those of immigrant women, the changes that occurred affected rural women, too.
The "Cult of Domesticity, " first named and identified in the early part of the century, was solidly entrenched by late nineteenth century, especially in rural environments. The beliefs embodied in this ‘Cult’ gave women a central, if outwardly passive, role in the family. Women’s God-given role, it stated, was as wife and mother, keeper of the household, guardian of the moral purity of all who lived therein. The Victorian home was to be a haven of comfort and quiet, sheltered from the harsh realities of the working world. Housework took on a scientific quality, efficiency being the watchword. Children were to be cherished and nurtured. Morality was protected through the promulgation of Protestant beliefs and social protest against alcohol, poverty and the decay of urban living.
Pulling against these traditions was the sense of urgency, movement and progress so evident in the geographical, industrial, technological and political changes affecting the country. Women’s roles were meant to steady all this uncertainty, but women could not help but see opportunities for themselves in this growth. Jobs opened up in factories, retail establishments and offices, giving single women new options. Education became mandatory for both genders in many states. Women sought higher education, too, first in all female institutions and then in co-ed environments. The push for women’s rights, with suffrage in the forefront, also gathered momentum. Regardless of these changes, throughout the nineteenth century, 95% of married women remained "at home."
The proliferation of popular literature and the expansion of communications through the press and other means could not have helped but enlighten rural women to the opportunities opening up for their gender. Their lives, however, were tied to house and children, endlessly unacknowledged work, little opportunity for outside contact or variety of experience, and little relief from everyday triviality. The extent to which farm women felt any fulfillment or larger meaning may indeed have been tied to how well they could balance the tensions between the expectations of the culture and the day-to-day, unrelenting tasks of housekeeping, child rearing and farm life.
Keeping the Home
" A really good housekeeper is almost always unhappy. While she does so much for the comfort of others, she nearly ruins her own health and life. It is because she cannot be easy and comfortable when there is the least disorder or dirt to be seen." The Household, January 1884
"...some one said that woman’s best work is that which is unseen by mortal eye...that this work is the steady uplifting and upholding of a higher standard of living; it is the reaching forward and upward, both for ourselves and others, towards a loftier life... Yes, it is hard. But, sisters, it is work that belongs to us. It is work that, if not done by us, will never be done at all. For man cannot do it - as far as the family is concerned...For as a rule, and it is a rule that has few exceptions, woman creates the atmosphere of the home." Mrs. Julia C.R. Dorr, The Household, Vol. V, 1872
Women’s popular literature of the period is full of advice about and encouragement for proper housekeeping. Implicit in this advice is the notion that by keeping a clean, neat, pious home and filling it with warmth and inviting smells, women are achieving their highest calling. The movement to elevate the status of housework found an early voice in the writings of Catherine Beecher. Beecher devoted much effort to glorifying housekeeping and attempting to convince her readers that their daily duties, however tedious or distressing, constituted important works assigned to them by Nature and God. Beecher was one of the early proponents of ‘scientific housekeeping,’ believing that a good housekeeper should be a jack-of-all-sciences, and use those sciences to run the household efficiently. She went so far as to suggest a explicit weekly schedules and rational designs for the kitchen and cooking areas. Her many manuals and cookbooks offered not only a philosophy for housekeeping, but practical methods for accomplishing those philosophical ends.
A review of the popular literature of the time provides unique insights into the expectations for women’s lives and the realities of their existence. In his book, So Sweet to Labor, author Norton Juster looked at the advice given and the responses received in a few publications of the time. He notes that the term ‘drudgery’ appears again and again as a descriptive term. Women wrote letters that described the endless, repetitive work undertaken week by week. Not that it was all woe - many reported about the joys of fulfilling their womanly role as keeper of the house, or wrote to chastise their complaining sisters.
The weekly schedule of "drudge" likely included laundry on Monday, ironing and mending on Tuesday, baking on Wednesday and Saturday, daily tidying of kitchen and parlor, and thorough cleaning on Thursday and again on Saturday. This was in addition to childcare, three meals a day, hauling water and keeping the fire burning in the stove, a chore that in itself took at least one hour each day. Then there was making the family garments and seasonal preserving of fruits, vegetables and meat. Often, too, the scope of work extended to the farm itself. Women had charge of the farm garden, livestock and poultry and work related to "civilizing" the farm. During planting and harvest, if she did not work in the fields herself, she provided room and board for the extra help that did.
It is evident from the conflicting opinions offered in literature of the period that women’s lives were fraught with tensions. How-to manuals, magazine and newspaper articles set high, if not impossible, standards for moral rectitude, cleanliness and cheerfulness. The realities posed by the sheer number of tasks to be completed daily, monthly and yearly stressed even the hardiest of women. Even so, many women responded to the challenges place before them with humor and pride.
Health and Childbearing
"None of the many mysteries displayed by the study of life has been to mankind more unintelligible than that of disease, and nothing is more striking about this than the terribly disproportionate amount of suffering which falls to the lot of women. All my life I have been engaged in the study of their special ailments, and no conclusion is more firmly rooted in my mind than a devout thankfulness that I belong to the other sex." Sir Lawton Tait, 1890
Much was written in the closing years of the nineteenth century about the innate health - or lack of it - of the female. The middle and upper class ideal of woman was that of an ‘invalid.’ Professional medical theories at the time stated that woman’s normal condition was to be sick. Corresponding to the idea of "separate spheres" for women and men in society, the idea that women were, by their nature, sickly, complemented the idea that men were robust, aggressive, healthy and thus naturally predisposed to the harsh, competitive world of work while women were more suited to the quiet, sanctified life of the home. This is not to say that the illness which did afflict women were inconsequential. For example, for every 100 women who were twenty in 1865, more than 5 would die of tuberculosis by age 30, more than 8 by age 50. Disease was real, and devastating.
Rural women were required, by the nature of their work, to be healthy and strong. But that was often not the case. Beset by long days of labor, they were often exhausted, mentally and physically. It was generally accepted, however, that the prevalence of sickness and decline was the result of the "peculiarity" of her anatomy - woman as a natural invalid. Contemporary writings often noted the preponderance of nervous disorders and "fretfulness."
Middle and upper class women could and did seek medical care from (male) doctors. Working class women sought help in patent medicines and an increasing number of self-help books and magazines. Cures calling for eggs, tar, soot, herbal extracts and other household ingredients illuminated the pages of popular magazines. For example, a recipe for a cure for rheumatism states,
"To a handful of blue flag root add a pint of good spirits; let stand for a week. Dose, a spoon full three times a day, and increase by degrees to three tablespoons full a day. Or, apply a poultice of hot potatoes; renew as often as it becomes hard or cool. It is said to be a very excellent remedy."
Similar concoctions were proposed for the cure of bleeding lungs, cancer, shortness of breath and cough. These home remedies were often supplemented with a myriad patent medicines, many with high percentages of alcohol, and the liberal use of laudanum.
Childbearing and child mortality remained two of the most serious health issues for women and their families. There is evidence that white women in the later part of the century were controlling their fertility. Between 1800 and 1900, their birthrates dropped by half, while those of blacks and European immigrants grew, even though their childhood death rates were higher. On average, women earlier in the century gave birth to seven live babies in her lifetime. One-third to one-half would not survive to age 5. By 1900, the birthrate had dropped to an average of 3.5 live births. Even with this reduction in birthrate, many families lost children early, before they reached adulthood.
Fashion
" That our dress may be more healthful, it must first be made looser about the waist, as loose as a man’s." The Household 1874
No description of the lives of women in the late nineteenth century would be complete without a discussion of the constrictions of clothing and the influence of style. Once again, the expanding mass culture, expressed in popular magazines and women’s publications, promoted the latest fashion styles to women of all classes, whether those styles were practical for their lifestyles or not. Elaborate dresses, with bustles, and nipped waists and yards of heavy fabric and lace, illustrated the pages of these magazines. One account reported that the "well-dressed" woman of the late nineteenth century wore 37 pounds of clothing in the winter, 19 which hung from her corseted waist.
Probably the most disputed piece of clothing during this period was the corset. Both physicians and early feminists decried their use. One report stated that a fashionable women’s corset exerted, on average, 22 pounds of pressure on the internal organs. Long term results of wearing the undergarment included fractured ribs, collapsed lungs, displacement of the liver and uterine prolapses. Physicians rallied around the idea that corsets compressed the genitals, thus weakening the woman’s ability to bear children. Another theory, proposed by physician Orson Fowler, was based on the assumption that " compression of any part produced inflammation." Consequently, the compression due to wearing a corset would cause blood to flow to the woman’s head, thereby putting pressure on her nervous system, causing, in Fowler’s theory, a personality change.
Feminists attacked corseting because of its potential harm to internal organs and its restriction of movement. They advised physicians to counsel their female patients on the dangers of corseting. Even popular literature, where illustrations of the latest fashions prevailed, commented on corseting. One woman wrote to the Household in 1879, "I omitted corsets when speaking of underthings. They have been banished from my wardrobe so long I had almost forgotten there was such an article... One feels so perfectly free and easy."
Women’s Education
"The proper education of a man decides the welfare of an individual; but educate a woman, and the interests of a whole family are secured." Catherine Beecher, Treatise on Domestic Economy
The roots of the movement for women’s literacy can be traced to the end of the 18th century, when calls for the education of girls got underway. Few objections were raised to the idea that girls should be educated on par with boys. Instead the need for such education was tied to the needs of the new republic; women would make sure that patriot sons were reared properly. When boys’ schools could or would not admit girls, female academies were established and thrived. As publicly supported education expanded in the early decades of the 19th century, girls were included along with boys. By 1860, it was almost as likely for a white girl as a white boy to attend school, even in farming regions of the country. The success of these early ventures assured that when secondary education expanded after the Civil War, it would be overwhelmingly co-educational. In 1870, there were only 160 high schools in the country. By 1880, the figure was almost 800 and by the end of the century, the number had grown to 6000. From 1870 until the middle of the twentieth century, female high school graduates outnumbered male graduates. And, the Census of 1880 found that the proportion of literacy for young women was actually higher than of young men.
The movement for equal education for girls and boys moved forward almost without opposition. The idea fitted nicely into the social ideology that women were the rearers of children and the moral companions of men within the family, so some education seemed appropriate. Early in the century, though, this acceptance stopped short of college. Oberlin College in Ohio was the first to admit women in 1837. And when the Michigan legislature founded a state university that same year, it provided places for women, although women were not actually allowed to attend until 1870.
Even when women were admitted to some private and public colleges, they were not treated as equals. Colleges, for the most part, remained gender separated, opposing coeducation on the ground that it was ‘contrary to nature,’ and predicted that ‘young men would lose a proper sense of dignity of their pursuits’ while’ the delicacy of the female character would be destroyed.’ Educators of the day feared that, although women possessed the mental capability to do college work, their health was threatened if they were forced to follow the intellectual rigors of the male curriculum. Even so, a college educated woman was seen as benefit to herself, her husband and her family. Until, of course, the results of a college education on women became known.
By the end of the 19th century, it became evident that college-educated women did not marry as often as other women. Regardless of who did the counting, the figures always showed that at least a fourth of women who graduated from college never married, more that double the proportion of non-college women. And, if they married at all, they did so later in life, and consequently had fewer children. As a result, women’s higher education came under fire for having a subversive effect on the traditional concept of women and family. The intent of educating women - making them better wives and mothers - showed every indication of doing just the opposite. Once doors had been opened, expectations raised and new skills learned, how women used their education or what conclusions they drew from it were not always what their teachers - or society - intended.
As the land grant colleges began to sprout in western and northern regions, rural women found opportunities open to them that were more technical than intellectual. Just as future farmers were learning new techniques for coaxing more from the land, future farm women were learning the new "scientific" skills of household management. First promoted by Catherine Beecher and her sister, Harriet Beecher Stowe in the 1830s and 1840s, this notion was carried through in the Western and Midwestern land grant colleges founded after the Morrill Land Grant Act of 1862. Lou Allen Gregory, the first professor of domestic science at Illinois Industrial University, agreed with Beecher that women’s education, " must recognize their distinctive duties as women - the mothers, housekeepers and health keepers of the world - and furnish instruction which shall fit them to meet these duties. " Her school claimed to offer women a "liberal and practical education, which should fit them for their great duties and trusts, making them the equals of their educated husbands and associates, and enabling them to bring the aids of science and culture to the all-important labors and vocations of womanhood. " Although most girls continued to learn the skills of housekeeping at home, these home economics programs legitimized the science of homemaking that had been promoted earlier in the century and offered another path to higher education.
Women’s Social Movements
"Of the women, by the women, but for humanity." Frances Willard, President, Women’s Christian Temperance Movement
The Grange
Following the Civil War and into the 1870s, the Grange movement grew in the central states and emerged as the Southern Farmers Alliance in the South. First formed as a secret fraternal organization in 1867 and called the Patrons of Husbandry, the Grange movement spread quickly, fueled by farmers’ concerns over high railroad shipping rates and what they saw as monopolies by middlemen, like the companies that owned grain elevators. By 1875, the national Grange membership had passed 850,000. Indiana ranked second behind Missouri in Grange membership in Mid-Central region of the US that year, with 60,298 members and 1,485 Granges, 498 for every 100,000 in agricultural population.
Early in the movement, Grangers welcomed women into their ranks with equal voice and voting rights, recognizing their importance to rural family economies and communities. Women took the opportunity and participated fully. They wrote for the Grange Visitor and other rural papers, lobbied in state and local forums for fair treatment of small farmers and gave speeches at Grange sponsored speaking tours. The extension of equal voting rights in this organization led Grange women to support both woman suffrage and temperance. The Grange also provided a very important social outlet for farm women, one that allowed them to participate as equals in an organization that attempted to directly improve their lives and the lives of their families.
The Grange formed cooperatives and farmer-owned businesses in addition to political activism. Most of the business ventures failed and, as agricultural conditions improved in the 1880s, the Grange movement slowly lost members. In later years, the Grange became, for the most part, a social organization, fostering cooperation among farm families.
Temperance and Suffrage
The Women’s Christian Temperance Movement (WCTU)was the largest women’s organization of the nineteenth century. Funded in 1874, the WCTU addressed what was most women’s primary concern- the terrible damage that men’s alcoholism did to their families. It had roots among women in the country and the city, and was very strong in the Midwest. The movement to ban consumption of alcohol began in the town of Hillsboro, Ohio in 1873, when a group of about one hundred women appeared before the town’s saloons, praying and urging the saloon keepers to close their doors for good. These visits continued for many weeks. Similar vigils spontaneously erupted in another Ohio town and one in New York. Even before there was a formal organization, the vigils spread to several other states and was dubbed " the Woman’s Uprising" by one historian. Over the next six months, until the actions died away, about 3000 saloons were closed. One national magazine reported that excise revenue in Ohio and Indiana dropped by $350,000 for January and February 1874. Temperance legislation finally received consideration in Congress, but the most lasting consequence of the actions was the formation of the WCTU.
It was widely recognized then that the impetus for the women’s protests was the concern for the moral wellbeing of the home. Not only was the saloon the place in which husbands spent their wages on liquor, but it was also the recognized site of gambling and prostitution. The saloon a man’s world - stood in juxtaposition to the home, sanctuary of the family- mother, children and father. Even those women whose husbands were temperate or abstainers supported the movement as a way to spread the proper ideas about family life and responsibility.
And, although the movement was primarily middle-class, a study in 1885 revealed that almost 30 percent of the members were wives of skilled and unskilled workers, attesting to the popularity of the cause among women of all classes.
The substantial and rapid growth of the WCTU after 1874 far outpaced any organization working on behalf of woman suffrage. In fact, the WCTU in its early years wanted nothing to do with the "extreme" cause of votes for woman. Frances Willard, first elected to the presidency of the organization in 1879 (an office she held for eighteen years), consistently pointed out that if women were to be effective in the cause of temperance, they would need the power of the ballot box. Although her pronouncements met with resistance at first, by 1885 the organization’s journal, Union Signal, clearly stated that once prohibition had been achieved, women’s public work would still not be accomplished until they had the vote. Willard envisioned an organization with a broader mission, although temperance remained its main cause. In the 1880s, she inaugurated what she called the "Do-Everything Policy," in which she provided causes other than temperance for members to work for. By 1889, she had instituted 39 departments organized under headings like labor, health, social purity, peace and arbitration. She envisioned an organization for all women.
The women’s temperance crusade had unintentional consequences for its members, too. Women who became involved in it saw and learned things that moved them in new and often quite unexpected, unsettling directions. And although the WCTU never did become a major force in the quest for the vote, it was an excellent example of how women’s involvement in a cause close to the home and to the traditional sphere of women could lead women to support causes that were neither traditional nor home-related. Indeed, many woman activists for suffrage and other social causes began their public work in temperance organizations.
The nineteenth-century quest for woman suffrage never had the widespread support that temperance did. The idea for equal suffrage and expanded rights for women arose from the abolition movement before the Civil War. In fact, the very idea of women’s rights split the abolition movement, with most members coming out against woman suffrage. This split became very visible in July 1848, when 300 men and women gathered at the Women’s Rights Convention in Seneca Falls, New York to demand political, social and economic equality for women. The results, the "Declaration of Sentiments," modeled after the Declaration of Independence, outlined the injustices against women and began the fight for women’s rights. Even so, feminist leaders Elizabeth Cady Stanton and Susan B. Anthony temporarily suspended their actions on behalf of women’s rights to push for abolition during the Civil War.
Women remained very active in the anti-slavery movement in the North and following the war, in the organizations that pushed for equal rights for blacks. For these activists, the logical expansion of rights for newly-freed blacks extended to women as well. Women activists moved from pious and moral opposition against slavery to political action on their own behalf. When the Fifteenth Amendment proposed to prohibit denial of the vote on the basis of " race, color or previous condition of servitude," women who pushed for equal rights wanted to add the word "sex" to the list. They lost this battle, but continued to call for woman suffrage. Of the one hundred participants who signed the "Declaration of Sentiments in 1848," only two would live to see woman receive the vote in 1920.
For many women, support of their right to vote came through activism in other causes. Where their participation in causes like temperance could, and was, seen as an extension of their roles as wives, mothers and keepers of family values, political activism was seen as men’s activity.. With the expansion of education, participation in the workforce and social protest movement like temperance, women began to question their proscribed role as quiet supporters of family morality and began to demand direct political participation.
Women as Consumers
"Goods suitable for the millionaire, at prices in reach of the millions." R.H. Macy advertisement, 1887
The nineteenth century was marked by a move from a society of producers to a society of consumers. The expansion of communications, transportation and mass production became an equalizing force between rural and urban living as an expansive number of consumer goods became available by mail order and in large department stores. The latest in styles and conveniences - at least as defined by mass culture - were as equally available to folks in Chicago as they were to those living at the far reaches of western settlement. Rural families relied on the Montgomery Ward (founded in 1872) and Sears (1893) catalogs to keep them abreast on the latest conveniences, machinery, and fashion styles.
By the late 1800s, certain new "conveniences" were available to alleviate some of women’s manual tasks. The sewing machine is one example. First patented in the 1850s, the sewing machine was initially so expensive that they were only purchased by factories which mass produced clothing. Manufactured clothing became widely available as a result of the Civil War because of the need to produce uniforms for the army. Consequently, men’s clothing continued to be mass produced after the war, while women’s clothing remained a product of the home and independent seamstresses until the early twentieth century. As a result, manufacturers of sewing machines realized the potential of the home customer and devised time payment plans and trade-in allowances to finance purchases. And, by the 1870s, paper patterns, advertised in or sold along with women’s magazines like Godey Lady’s Book and Leslies Illustrated, brought international fashion to even to faraway frontier homes and standardized women’s clothing even before it was mass produced.
The improved cooking stove was another "convenience" designed to ease women’s lives. Larger and more efficient that their counterparts before the Civil War, these large cast iron stoves had reservoirs to heat water along with ovens and cooktops. They produced the heat for the kitchen as well. Still, it was hard, hot, heavy work. In six days, an up-to-date coal stove consumed 292 pounds of new coal, 14 pounds of kindling and produced 27 pounds of ash to be sifted out.
Pages and pages of mail order catalogs were dedicated to tools like cherry pitters and apple peelers, enameled steel pots and kettles, meat choppers and butter churns. Add to that household linens, clothing, shoes and hats, sewing notions, furniture, and toys , and the farm family had the convenience of the department store at their fingertips. Unlike trading with the local storekeeper, mail order transactions were impersonal and led to a new phenomenon -national advertising. Early on, advertisers identified women as their audience and quickly learned that they had to create a demand for many new items. This they did with aplomb.
Aaron Montgomery Ward, the first national mail order entrepreneur, used yet another kind of selling device. He aligned himself with the Grange, which in the 1870s represented thousands of potential customers. The Grange’s endorsement boosted the company’s credibility and helped to alleviate the impersonal nature of the transaction. His was the "official catalog" of the Grange and offered a discount to Grange members. Women were welcomed members of Granges all over the Midwest and Ward’s association with the organization offered yet another impetus for them to purchase his goods.
Household advice manuals and formal instruction soon addressed the skills necessary to be a successful consumer. For the first time, manuals in the 1870s included chapters on how to identify quality foods when shopping in a market. Home economist began teaching women how to shop and plan for shopping. Instruction even went so far as to include how to prepare and keeping to a household budget, once believed to be the purview of the husband.
As much as this new consumer culture changed the buying patterns of urban residents, it had an even greater impact on rural dwellers. Although barter was still a medium of exchange at the local general store, purchases from mail order catalogs required the exchange of cash for goods. More important than that, perhaps, was the leveling factor it produced between rural and urban dwellers and between the northeastern, midwestern, southern and newly opened western areas of the country. The consumer culture of the late nineteenth century was one important part of an emerging mass culture in which women were major players.
12 Situs Edit Foto Online Keren
Jika anda suka berfoto mungkin anda sering kali menemukan hasil yang kurang memuaskan dan tidak sesuai keinginan karena itu cara mengatasi agar foto tampak lebih cantik dan menarik perlu melakukan editing agar sesuai keinginan dan biasanya di dibutuhkan software seperti fotosop dan lainnya. Hanya saja bagi mereka yang kurang paham menjalankan aplikasi seperti itu terkadang membingungkan, dan dibutuhkan waktu untuk belajar.
Saat ini sudah banyak aplikasi online atau situs yang berfungsi untuk melakukan edit foto online lewat internet dan caranya pun sangat mudah dibandingkan menggunakan software yang harus di instal terlebih dahulu di komputer. Hal yang lebih menarik, menggunakan online photo editor, tidak dibutuhkan keahlian khusus layaknya edit foto seperti potosop dll.
Sedangkan kelebihan lain adalah adalah tersedianya frame atau bingkai serta beberapa aksesoris lain untuk mempercantik foto sesuai keinginan, mulai di blur, sharpen, light dan sebagainya.
Berikut ini daftar situs yang bisa anda coba:
1. PicJoke.com
2. Festisite.com
3. FakeMagazineCover.com
4. HairMixer.com
5. PhotoFunia.com
6. FaceInhole.com
7. PiZap.com
8. GetGrosseDout.com
9. Pixenate.com
10. MakemeBabies.com
11. Blingee.com
12. BeFunky.com
Daftar situs di atas hanya sebagian dari sekian banyak situs edit foto online yang bisa anda gunakan. Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa anda temukan di internet, tapi dengan 12 situs itu saja, saya rasa sudah lebih dari cukup. Aplikasi edit foto seperti itu cocok bagi anda yang rajin update status serta suka berbagi foto lewat facebook baik untuk sekadar ajang narsis atau sekedar berbagi foto lucu hasil editing yang anda lakukan, tanpa harus berbagi video lucu pun anda tetap bisa berbagi dengan foto lucu yang bisa membuat teman anda tersenyum
Nah, silahkan dicoba saja, disana sudah tersedia bingkai dan frame sesuai pilihan mulai dari hal yang tampak serius sampai pada bingkai yang tampak lucu seperti bingkai tubuh binatang yang bisa dirubah sesuai yang anda suka. Anda juga bisa melakukan editing pada foto yang sebelumnya sudah di upload di facebook, selamat mencoba mudah-mudahan bermanfaat.
Saat ini sudah banyak aplikasi online atau situs yang berfungsi untuk melakukan edit foto online lewat internet dan caranya pun sangat mudah dibandingkan menggunakan software yang harus di instal terlebih dahulu di komputer. Hal yang lebih menarik, menggunakan online photo editor, tidak dibutuhkan keahlian khusus layaknya edit foto seperti potosop dll.
Sedangkan kelebihan lain adalah adalah tersedianya frame atau bingkai serta beberapa aksesoris lain untuk mempercantik foto sesuai keinginan, mulai di blur, sharpen, light dan sebagainya.
Berikut ini daftar situs yang bisa anda coba:
1. PicJoke.com
2. Festisite.com
3. FakeMagazineCover.com
4. HairMixer.com
5. PhotoFunia.com
6. FaceInhole.com
7. PiZap.com
8. GetGrosseDout.com
9. Pixenate.com
10. MakemeBabies.com
11. Blingee.com
12. BeFunky.com
Daftar situs di atas hanya sebagian dari sekian banyak situs edit foto online yang bisa anda gunakan. Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa anda temukan di internet, tapi dengan 12 situs itu saja, saya rasa sudah lebih dari cukup. Aplikasi edit foto seperti itu cocok bagi anda yang rajin update status serta suka berbagi foto lewat facebook baik untuk sekadar ajang narsis atau sekedar berbagi foto lucu hasil editing yang anda lakukan, tanpa harus berbagi video lucu pun anda tetap bisa berbagi dengan foto lucu yang bisa membuat teman anda tersenyum
Nah, silahkan dicoba saja, disana sudah tersedia bingkai dan frame sesuai pilihan mulai dari hal yang tampak serius sampai pada bingkai yang tampak lucu seperti bingkai tubuh binatang yang bisa dirubah sesuai yang anda suka. Anda juga bisa melakukan editing pada foto yang sebelumnya sudah di upload di facebook, selamat mencoba mudah-mudahan bermanfaat.
Maeda Atsuko's Graduation Parade Cancelled
Maeda Atsuko's graduation parade which was supposed to have been held at 15:30pm on August 27th
before her graduation performance was cancelled. It was cancelled due
to safety reason. It's estimated the crowd that will be gathered will be
equal to the London Olympics medalists parade (around 50,000 people)
which was recently held in Ginza.
The police had a tough time handling the crowd in Ginza. Hence, the police authorities have advised for the safety of not only the public but Acchan as well, that the parade be cancelled and the management has decided that they will follow the authorities suggestion.
Fans are probably disappointed but It's good that the management decided to cancel it. If the police will have a tough time, it's better to cancel the parade than take the risks.
The police had a tough time handling the crowd in Ginza. Hence, the police authorities have advised for the safety of not only the public but Acchan as well, that the parade be cancelled and the management has decided that they will follow the authorities suggestion.
Fans are probably disappointed but It's good that the management decided to cancel it. If the police will have a tough time, it's better to cancel the parade than take the risks.
[Download] AKB48 - Yume no Kawa [PV]
Mumpung ada temen seperjuangan ane yang mencarikan dan mengupload nih PV :D
Terima Kasih buat "Mac" yang telah membantu ane xD
Nah yang berminat PVnya silahkan dondot
disini..
pasword: DiaryofWota
Heavy Rotation Chosen As Top Song on AKB48 Request Hour 2012
AKB48 held their annual live event “AKB48 Request Hour 2012 Setlist Best 100″ on 19-22 Jan 2012 at Tokyo Dome City and over the four days performed 100 top songs that were voted by fans. Interestingly, this year’s #1 song was “Heavy Rotation”, which was also chosen by fans as their most favorite song in the previous year.
Here’s the entire list of top 100 songs (consisting of single and coupling songs from AKB48, SKE48, NMB48 and SDN48):
100: Theater no Magami
099: Pajama Drive
098: Dakishimeraretara
097: Dear my teacher
096: Anata ga ite kureta kara
095: AKB Sanjou!
094: Higurashi no Koi
093: Wasshoi E!
092: High school days
091: Kataomoi no Taikakusen
090: Seifuku Resistance
089: To be continued.
088: 16-nin Shimai no Uta
087: Seventeen
086: Nakeru Basho
085: Ice no Kuchizuke
084: Hikkoshimashita
083: FIRST LOVE
082: Iikagen no Susume
081: Kimi ni Tsuite
080: Blue rose
079: Sougen no Kiseki
078: Nagisa no CHERRY
077: Overtake
076: Koi wo Kataru Shijin ni narenakute
075: 1! 2! 3! 4! Yoroshiku!
074: Wagamama Collection
073: Tenshi no Shippo
072: Gomenne, SUMMER
071: Himawari
070: Tsundere!
069: Saishuu Bell ga Naru
068: Locker Room Boy
067: Sasae
066: Kimi no Senaka
065: Arashi no Yoru niwa
064: Yankee Soul
063: Banzai Venus
062: Kanojo ni naremasuka?
061: Honest man
060: Uhho Uhhoho
059: RESET
058: Namida Surprise!
057: Seishun to Kizukanai mama
056: Only today
055: Korogaru Ishi ni Nare
054: RIVER
053: Kurumi to Dialogue
052: Chance no Junban
051: End Roll
050: Mammoth
049: Omoide Ijou
048: Zannen Shoujo
047: Kuchi Utsushi no Chocolate
046: Gyakuten Ouji-sama
045: Ookami to Pride
044: MARIA
043: 10-nen Zakura
042: Dareka no Tame ni ~What can I do for someone?~
041: Kuroi Tenshi
040: Yuuhi wo Mite iruka?
039: Pioneer
038: Temo Demo no Namida
037: Enjou Rosen
036: Enkyori Poster
035: Shoujo tachi yo
034: Itoshisa no Accel
033: Oogoe Diamond
032: Candy
031: Choose me!
030: Sakura no Ki ni Narou
029: Okie Dokie
028: Junai no Crescendo
027: Kimi to Boku no Kankei
026: Shonichi
025: Ponytail to Shushu
024: Kiseki wa Maniawanai
023: Seishun no Lap time
022: Zetsumetsu Kurokami Shoujo
021: Omatase Set list
020: Mushi no Ballad
019: Oh My God!
018: Beginner
017: Kareha no Station
016: Pareo wa Emerald
015: Heart-gata Virus
014: Kurukurupa-
013: Bird
012: Kimi no koto ga Suki dakara
011: Iiwake Maybe
010: Yokaze no Shiwaza
009: Nakinagara Hohoende
008: Dakishimecha Ikenai
007: Kaze wa Fuiteiru
006: Itoshiki Natasha
005: Team B Oshi
004: Flying Get
003: Kodoku na Runner
002: Everyday, Kachuusha
001: Heavy Rotation
irnadiana.com
http://www.irnadiana.com/
yap yap yap sekali lagi posting WEB si irna diana... bagi teman2 yang kuliah fakultas keguruan terutama jurusan bahasa inggris bisa saya katakan sangat saya sarankan mengunjungi alamat ini.
tampilan barunya bagus, buat belajar blogging juga bisa. bisa saya bilang saya perlu belajar dari si irna nih, lope lope lope
just visit and see by yourself
yap yap yap sekali lagi posting WEB si irna diana... bagi teman2 yang kuliah fakultas keguruan terutama jurusan bahasa inggris bisa saya katakan sangat saya sarankan mengunjungi alamat ini.
tampilan barunya bagus, buat belajar blogging juga bisa. bisa saya bilang saya perlu belajar dari si irna nih, lope lope lope
just visit and see by yourself
Sejarah Gitar Bass
Bagi loe yang gemar memainkan bass, Tau ngga sih asal mula alat musik satu ini atau siapa yang pertama kali membuatnya? Bagi yang belum tau, mungkin artikel bisa menambah pengetahuan loe tentang alat musik ini.
Jika loe bertanya tentang siapa pembuat pertama kali bass elektrik? pasti jawabannya Leo Fender. Tapi bagaimanapun juga telah ada 5 jenis prototype yang belum begitu di ketahui, namun merupakan design awal dari bass elektrik yang di ciptakan sebelum fender memperkenalkan bass precisionnya di tahun 1951 kepada dunia.
Bass modern merupakan turunan langsung dari double bass, yang mana telah ada pada abad ke-17. Bagaimanapun designnya tetap sama sampai ke abad 20 yang merubah design bass menjadi lebih simpel dan praktis.
Di tahun 1920an, lloyd Loar, yang berkerja untuk gibson, mendesign double bass elektrik pertama. Bass ini menggunakan pickup electro-static, tapi amply untuk frekuensi bass belum dikembangkan. Jadi pada saat itu blum ada cara untuk mendengarkan instrument double bass tersebut.
Diawal tahun 1930an, paul tutmarc menjadi yang orang pertama yang memperbaiki ukuran double bass menjadi lebih praktis. Ukuran yang pertama dibuat hanya sebesar cello, dan mengunakan pickup rudimentary, namun hasilnya memiliki berat yang berlebihan, dan akhirnya diperbaiki bentuknya lebih menyerupai gitar.
Bass baru yang diciptakan ini memiliki panjang 42″, solid body, menggunakan kayu walnut hitam dan senar piano yang tetap dilengkapi dengan pickup.
Dan pertengahan tahun 30an, beberapa pengembang instrument musik - Lyon & Healy, Gibson and Rickenbacker, - memulai memasarkan eksperimental elektrik bass yang sama dengan prototype basss Tutmarc, yang lebih sedikit besar dibandingkan dengan double bass yang standard. Bagaimanaupun, bas itu tetap tinggi, tidak ,memiliki fret, dan di mainkan secara vertikal atau berdiri.
Sekitar tahun 1940, Paul Tutmarc jr memulai memproduksi gitar dan bass, termasuk bass Serenader. Produksi ini di distribusikan oleh L.D. Heater Music Co., di portland, Oregon, dan menjadi distributor terbesar untuk elektrik bass. Sang Genius itu menamainya dengan bass gitar - insturumen yang memilik fret dan di mainkan secara horizontal. Fitur utama dari produk tersebut adalah :
* Pickup - di design karena double bass sering tertutup dengen brass section dari sebuah band jazz.
* ukurannya - pemain double bass harus bisa berpergian sendiri, karena ukurannya yang besar, sering sekali ketinggalan di setiap perjalannya. Dengan design yang baru, pemain bass bisa berpergian dan beristirahat dengan bandnya.
Ada sedikit perubahan progres sampai Leo Fender menciptakan precision bass di tahun 1951. Penamaan Precision Bass dikarenakan fret yang ada di bass mengikuti note yang di mainkan secara presisi. Elektrik bass yang di produksi Leo fender ini, banyak yang memproduksi bentuk ini. Pada tahun 1957, bentuk pickupnya di rubah menjadi split pickup, dan pickguard dan headstocknya juga di redesign.
1960 Fender mendesign dan menciptakan Jazz bass, dengan 2 pickup yang sama ukurannya. Popularitas bass Fender kemudian diikuti oleh Gibson, Rickenbacker, dan Hohner. Hal ini yang semakin membuat popularitas bass elektrik meluas sampai sekarang.
Tahun 1959, Danelectro menciptakan pertamakali bass 6 senar, dengan tunse E A D G B E, dan Gibson dan Fender menggunakan ide ini untuk membuat Gibson EB-6 di tahun 1960, dan Fender VI di tahun 1962. Fender juga membuat bass 5 senar pertama dengan sebutan Fender V.
Tahun 1965, bass fretless Aubi dari Ampeg diciptakan dan di tahun 1968 8 string bass di perkenalkan oleh Hagstroem. Bass freetless 6 string (yang akhirnya dimiliki Les Claypool) di buat oleh Carl Thompson tahun 1978. Karena gaya permainan seperti slap dan pop, jumlah senar dan kombinasi kayu, neck dan lainnya pickup semakin menjadi bervariasi. EMG pickup yang menjadi pickup terlebar yang di gunakan di bass tersebut.
Pertama kali bass elektrik di populerkan oleh John Entwistle dan James Jamerson di tahun 60an, Jaco Pastorius dan Stanley Clarke di tahun 70an dan Marcus Miller dan Cliff Burton di tahun 80an. Di akhir 80an terlihat perbedaan dalam popularitas bass, sebagai fashion digunakan untuk electornic synthesised dance music. Bagaimanapun bass yang loe miliki sekarang merupakan perkembangan jauh dari double bass.
Sekarang, adalah Claypool (Primus) dan Flea (RHCP) yang menunjukan bagaimana pentingnya sebuah bass dalam musik modern. Gimana, sudah tau kan asal mula alat musik ini?!
Jika loe bertanya tentang siapa pembuat pertama kali bass elektrik? pasti jawabannya Leo Fender. Tapi bagaimanapun juga telah ada 5 jenis prototype yang belum begitu di ketahui, namun merupakan design awal dari bass elektrik yang di ciptakan sebelum fender memperkenalkan bass precisionnya di tahun 1951 kepada dunia.
Bass modern merupakan turunan langsung dari double bass, yang mana telah ada pada abad ke-17. Bagaimanapun designnya tetap sama sampai ke abad 20 yang merubah design bass menjadi lebih simpel dan praktis.
Di tahun 1920an, lloyd Loar, yang berkerja untuk gibson, mendesign double bass elektrik pertama. Bass ini menggunakan pickup electro-static, tapi amply untuk frekuensi bass belum dikembangkan. Jadi pada saat itu blum ada cara untuk mendengarkan instrument double bass tersebut.
Diawal tahun 1930an, paul tutmarc menjadi yang orang pertama yang memperbaiki ukuran double bass menjadi lebih praktis. Ukuran yang pertama dibuat hanya sebesar cello, dan mengunakan pickup rudimentary, namun hasilnya memiliki berat yang berlebihan, dan akhirnya diperbaiki bentuknya lebih menyerupai gitar.
Bass baru yang diciptakan ini memiliki panjang 42″, solid body, menggunakan kayu walnut hitam dan senar piano yang tetap dilengkapi dengan pickup.
Dan pertengahan tahun 30an, beberapa pengembang instrument musik - Lyon & Healy, Gibson and Rickenbacker, - memulai memasarkan eksperimental elektrik bass yang sama dengan prototype basss Tutmarc, yang lebih sedikit besar dibandingkan dengan double bass yang standard. Bagaimanaupun, bas itu tetap tinggi, tidak ,memiliki fret, dan di mainkan secara vertikal atau berdiri.
Sekitar tahun 1940, Paul Tutmarc jr memulai memproduksi gitar dan bass, termasuk bass Serenader. Produksi ini di distribusikan oleh L.D. Heater Music Co., di portland, Oregon, dan menjadi distributor terbesar untuk elektrik bass. Sang Genius itu menamainya dengan bass gitar - insturumen yang memilik fret dan di mainkan secara horizontal. Fitur utama dari produk tersebut adalah :
* Pickup - di design karena double bass sering tertutup dengen brass section dari sebuah band jazz.
* ukurannya - pemain double bass harus bisa berpergian sendiri, karena ukurannya yang besar, sering sekali ketinggalan di setiap perjalannya. Dengan design yang baru, pemain bass bisa berpergian dan beristirahat dengan bandnya.
Ada sedikit perubahan progres sampai Leo Fender menciptakan precision bass di tahun 1951. Penamaan Precision Bass dikarenakan fret yang ada di bass mengikuti note yang di mainkan secara presisi. Elektrik bass yang di produksi Leo fender ini, banyak yang memproduksi bentuk ini. Pada tahun 1957, bentuk pickupnya di rubah menjadi split pickup, dan pickguard dan headstocknya juga di redesign.
1960 Fender mendesign dan menciptakan Jazz bass, dengan 2 pickup yang sama ukurannya. Popularitas bass Fender kemudian diikuti oleh Gibson, Rickenbacker, dan Hohner. Hal ini yang semakin membuat popularitas bass elektrik meluas sampai sekarang.
Tahun 1959, Danelectro menciptakan pertamakali bass 6 senar, dengan tunse E A D G B E, dan Gibson dan Fender menggunakan ide ini untuk membuat Gibson EB-6 di tahun 1960, dan Fender VI di tahun 1962. Fender juga membuat bass 5 senar pertama dengan sebutan Fender V.
Tahun 1965, bass fretless Aubi dari Ampeg diciptakan dan di tahun 1968 8 string bass di perkenalkan oleh Hagstroem. Bass freetless 6 string (yang akhirnya dimiliki Les Claypool) di buat oleh Carl Thompson tahun 1978. Karena gaya permainan seperti slap dan pop, jumlah senar dan kombinasi kayu, neck dan lainnya pickup semakin menjadi bervariasi. EMG pickup yang menjadi pickup terlebar yang di gunakan di bass tersebut.
Pertama kali bass elektrik di populerkan oleh John Entwistle dan James Jamerson di tahun 60an, Jaco Pastorius dan Stanley Clarke di tahun 70an dan Marcus Miller dan Cliff Burton di tahun 80an. Di akhir 80an terlihat perbedaan dalam popularitas bass, sebagai fashion digunakan untuk electornic synthesised dance music. Bagaimanapun bass yang loe miliki sekarang merupakan perkembangan jauh dari double bass.
Sekarang, adalah Claypool (Primus) dan Flea (RHCP) yang menunjukan bagaimana pentingnya sebuah bass dalam musik modern. Gimana, sudah tau kan asal mula alat musik ini?!
pengertian Trias Politica
Bicara tentang ajaran Trias polica, maka muncul dua tokoh/pemikir
dunia yang sangat terkenal yaitu Montesquieu (1689-1755) dan John Locke
(1690). Kedua tokoh ini mempunyai hubungan sebagai guru dengan murid.
Montesquieu adalah guru dari John Lucke atau John Lucke adalah siswa dari
Montesquieu.
Bicara tentang keberadaan antara kedua tokoh ini, ketika kita bicara
dalam hubungannya dengan keberadaannya sebagai guru dan siswa, maka
yang paling mengenak untuk dibicarakan dalam hubungannya dengan
negara, yaitu munculnya teori Trias Politica dengan masing-masing
memberikan pendapatnya mengenai pentingnya pembagian kekuasaan di
dalam suatu negara hukum yang demokratis, yang dimaksudkan agar tidak
terjadi penyalagunaan kekuasaan dalam penyelenggaraan pemerintahan
negara, untuk menghindari absolutisme kekuasaan di dalam negara tersebut
harus dipisahkan dan dilaksanakan oleh setiap cabang kekuasaan yang
dipegang oleh lembaga yang berbeda. Montesquieu adalah seorang filsuf
Perancis mengemukakan tiga cabang kekuasaan yaitu kekuasaan Legislatif,
kekuasaan Eksekutif dan kekuasaan Yudikatif, atau kekuasaan membuat
Undang-Undang, kekuasaan melaksanakan Undang-Undang, dan kekuasaan
mengawasi jalannya Undang-Undang. Kekuasaan membuat Undang-Undang
biasanya dipegang oleh Parlemen/DPR, kekuasaan menjalankan Undang-
Undang dijalankan pemerintah, dan kekuasaan mengawasi jalannya Undang-
Undang berada ditangan lembaga peradilan atau Mahkamah Agung.
Sedangkan menurut John Lucke seorang yang berkebangsaan
Inggeris membagi kekuasaan dalam tiga bagian, namun pembagian antara
John Lucke dengan Montesquieu terdapat perbedaan. Menurut John Lucke
membagi kekuasaan menjadi kekuasaan Legislatif atau kekuasaan membuat
Undang-Undang, yang kekuasaan ini berada ditangan parlemen atas nama
rakyat, Kekuasaan Eksekutif adalah kekuasaan untuk mengadili, dan
kekuasaan federatif adalah kekuasaan untuk melakukan hubungan dengan
bangsa lain. Baik pembagian kekuasaan menurut Montesquieu maupun John
Lucke menurut Immanuel Kant disebut konsep Trias politica.
Trias politica kedua tokoh di atas bisa jadi berbeda, sebagai akibat dari
cara berpikir atau kondisi dan latar belakang kenegaraan yang berbeda dari
kedua tokoh itu. Montesquieu yang berkebangsaan Perancis dan John Lucke
berkebangsaan Inggeris.
Dalam Undang-Undang Dasar Negara Kesetuan Republik Indonesia
Tahun 1945, Pemisahan kekuasaan dapat dibedakan menjadi pemisahan
kekuasaan dalam arti material dan pemisahan kekuasaan dalam arti formal.
Pemisahan kekuasaan dalam arti material adalah pemisahan kekuasaan
secara tegas dalam tiga cabang kekuasaan, artinya antara kekuasaan
legislatif, kekuasaan eksekutif, dan kekuasaan Yudikatif benar-benar terlepas
antara tugas cabang yang satu dengan cabang lainnya. Tidak boleh ada
hubungaan kerjasama yang dapat menimbulkan penyimpangan pelaksanaan
kekuasaan yang menjadi tanggungjawabnya. Sebagai contoh pelaksanaan
pembagian kekuasaan di Indonesia pada masa sebelum diamandemen
Undang-Undang Dasar 1945, dimana kita dapat melihat bagaimana
keberadaan Presiden sebagai kepala negara sekaligus sebagai kepala
pemerintahan dalam hubungannya dengan pembuatan Undang-Undang
menurut pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa
Presiden memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang dengan
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Demikian pula dalam pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang
menyatakan, “kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka
untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan”.
Artinya kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka dan
harus terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah, padahal ketua
Mahkamah Agung juga diberikan status jabatan sebagai menteri sehingga
menjadi pembantu presiden (kejadian pada masalah Kabinet Gotong
Royong). Ini adalah beberapa contoh kaburnya atau terjadinya penyimpangan
terhadap Undang-Undang Dasar 1945 sebelum memasuki era reformasi.
Setelah era reformasi bergulir, dilakukan perubahan terhadap Undang-
Undang Dasar 1945, yang kedaulatan rakyat dibagi secara horizontal dengan
cara pemisahan (Separation of power) menjadi kekuasaan-kekuasaan dan
fungsi lembaga-lembaga negara sebagaimana diatur dalam Undang-Undang
Dasar sederajat dan masing-masing saling mengawasi dan mengimbangi
atau dikenal dengan Prinsip (checks and balances), artinya kekuasaan
legislatif kekuasaan membentuk Undang-Undang bergeser letaknya dari dari
kekuasaan presiden menjadi kewenangan DPR. Pasal 5 ayat (1) berubah
menjadi, “Presiden berhak mengajukan rancangan Undang-Undang kepada
Dewan Perwakilan Rakyat”. Dan pasal 20 (1) menyatakan, “Dewan
Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang”.
Pergeseran tersebut berkaitan pula dengan doktrin pembagian kekuasaan
versus pemisahan kekuasaan. Sebelum diadakan perubahan UUD 1945,
kedaulatan rakyat dilaksanakan sepenuhnya oleh MPR, sebagai penjelmah
seluruh rakyat. Dari lembaga tertinggi inilah, kekuasaan dari rakyat itu
dibagi-bagikan kepada lembaga-lembaga tinggi negara yang lainnya secara
distributif. Oleh karena itu paham yang dianut bukan pemisahan kekuasaan
melainkan pembagian kekuasaan secara vertikal atau biasa dikenal dengan
istilah “distribution of power”.
Jelaslah bahwa sistem penyelenggaraan pemerintahan di negara kita
setelah amandemen Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik
Indonesia Tahun 1945, tidak lagi melakukan sistem pembagian kekuasaan
“distribution of power” melainkan telah melakukan dengan sistem
pemisahan kekuasaan atau yang dikenal dengan “separaticion of power”.
Dalam prinsip pemisahan kekuasaan yang dianut dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 disertai dengan penerapan
prinsip hubungan saling mengawasi dan mengimbangi antar lembaga negara,
kekuasaan legislatif dipegang oleh DPR dan DPD. DPR memiliki fungsi
legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan yang berkaitan dengan
pemerintahan. DPR memegang kekuasaan membentuk UU, namun demikian,
setiap Rancangan Undang-Undang (RUU) harus dibahas dan mendapat
persetujuan bersama antara
DPR dan Presiden sehingga terdapat
keseimbangan. Sedangkan DPD hanya dapat mengajukan RUU yang
berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pemekaran
daerah, pengelolah sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya.
Dalam hubungannya dengan kekuasaan eksekutif dipegang oleh
Presiden, namun harus dijalankan menurut ketentuan Undang-Undang Dasar
dan sesuai peraturan perundang-undangan lainnya. Disamping itu prinsip
saling mengawasi dan mengimbangi, Presiden juga berhak mengajukan RUU
kepada DPR.
Berkaitan dengan kekuasaan yudikatif adalah kekuasaan kehakiman
sebagai kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna
menegakkan hukum dan keadilan, dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung
dan Badan peradilan dibawahnya dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji
peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang terhadap UU, dan
mempunyai kewenang lainnya yang diberikan oleh UU. Pengujuan terhadap
peraturan perundang-undangan di bawah UU adalah bentuk pengawasan dan
untuk mengimbangi kewenangan peraturan yang dimiliki oleh eksekutif.
Sedangkan Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama
dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang
terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga
negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar,
memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil
pemilihan umum.
Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas
pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh
Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut Undang-Undang
Dasar.
Sedangkan Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan
pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka
menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku
hakim. Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan
pengalaman di bidang hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang
tidak tercela. Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh
Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Susunan,
kedudukan, dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang
dunia yang sangat terkenal yaitu Montesquieu (1689-1755) dan John Locke
(1690). Kedua tokoh ini mempunyai hubungan sebagai guru dengan murid.
Montesquieu adalah guru dari John Lucke atau John Lucke adalah siswa dari
Montesquieu.
Bicara tentang keberadaan antara kedua tokoh ini, ketika kita bicara
dalam hubungannya dengan keberadaannya sebagai guru dan siswa, maka
yang paling mengenak untuk dibicarakan dalam hubungannya dengan
negara, yaitu munculnya teori Trias Politica dengan masing-masing
memberikan pendapatnya mengenai pentingnya pembagian kekuasaan di
dalam suatu negara hukum yang demokratis, yang dimaksudkan agar tidak
terjadi penyalagunaan kekuasaan dalam penyelenggaraan pemerintahan
negara, untuk menghindari absolutisme kekuasaan di dalam negara tersebut
harus dipisahkan dan dilaksanakan oleh setiap cabang kekuasaan yang
dipegang oleh lembaga yang berbeda. Montesquieu adalah seorang filsuf
Perancis mengemukakan tiga cabang kekuasaan yaitu kekuasaan Legislatif,
kekuasaan Eksekutif dan kekuasaan Yudikatif, atau kekuasaan membuat
Undang-Undang, kekuasaan melaksanakan Undang-Undang, dan kekuasaan
mengawasi jalannya Undang-Undang. Kekuasaan membuat Undang-Undang
biasanya dipegang oleh Parlemen/DPR, kekuasaan menjalankan Undang-
Undang dijalankan pemerintah, dan kekuasaan mengawasi jalannya Undang-
Undang berada ditangan lembaga peradilan atau Mahkamah Agung.
Sedangkan menurut John Lucke seorang yang berkebangsaan
Inggeris membagi kekuasaan dalam tiga bagian, namun pembagian antara
John Lucke dengan Montesquieu terdapat perbedaan. Menurut John Lucke
membagi kekuasaan menjadi kekuasaan Legislatif atau kekuasaan membuat
Undang-Undang, yang kekuasaan ini berada ditangan parlemen atas nama
rakyat, Kekuasaan Eksekutif adalah kekuasaan untuk mengadili, dan
kekuasaan federatif adalah kekuasaan untuk melakukan hubungan dengan
bangsa lain. Baik pembagian kekuasaan menurut Montesquieu maupun John
Lucke menurut Immanuel Kant disebut konsep Trias politica.
Trias politica kedua tokoh di atas bisa jadi berbeda, sebagai akibat dari
cara berpikir atau kondisi dan latar belakang kenegaraan yang berbeda dari
kedua tokoh itu. Montesquieu yang berkebangsaan Perancis dan John Lucke
berkebangsaan Inggeris.
Dalam Undang-Undang Dasar Negara Kesetuan Republik Indonesia
Tahun 1945, Pemisahan kekuasaan dapat dibedakan menjadi pemisahan
kekuasaan dalam arti material dan pemisahan kekuasaan dalam arti formal.
Pemisahan kekuasaan dalam arti material adalah pemisahan kekuasaan
secara tegas dalam tiga cabang kekuasaan, artinya antara kekuasaan
legislatif, kekuasaan eksekutif, dan kekuasaan Yudikatif benar-benar terlepas
antara tugas cabang yang satu dengan cabang lainnya. Tidak boleh ada
hubungaan kerjasama yang dapat menimbulkan penyimpangan pelaksanaan
kekuasaan yang menjadi tanggungjawabnya. Sebagai contoh pelaksanaan
pembagian kekuasaan di Indonesia pada masa sebelum diamandemen
Undang-Undang Dasar 1945, dimana kita dapat melihat bagaimana
keberadaan Presiden sebagai kepala negara sekaligus sebagai kepala
pemerintahan dalam hubungannya dengan pembuatan Undang-Undang
menurut pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa
Presiden memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang dengan
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Demikian pula dalam pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang
menyatakan, “kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka
untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan”.
Artinya kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka dan
harus terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah, padahal ketua
Mahkamah Agung juga diberikan status jabatan sebagai menteri sehingga
menjadi pembantu presiden (kejadian pada masalah Kabinet Gotong
Royong). Ini adalah beberapa contoh kaburnya atau terjadinya penyimpangan
terhadap Undang-Undang Dasar 1945 sebelum memasuki era reformasi.
Setelah era reformasi bergulir, dilakukan perubahan terhadap Undang-
Undang Dasar 1945, yang kedaulatan rakyat dibagi secara horizontal dengan
cara pemisahan (Separation of power) menjadi kekuasaan-kekuasaan dan
fungsi lembaga-lembaga negara sebagaimana diatur dalam Undang-Undang
Dasar sederajat dan masing-masing saling mengawasi dan mengimbangi
atau dikenal dengan Prinsip (checks and balances), artinya kekuasaan
legislatif kekuasaan membentuk Undang-Undang bergeser letaknya dari dari
kekuasaan presiden menjadi kewenangan DPR. Pasal 5 ayat (1) berubah
menjadi, “Presiden berhak mengajukan rancangan Undang-Undang kepada
Dewan Perwakilan Rakyat”. Dan pasal 20 (1) menyatakan, “Dewan
Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang”.
Pergeseran tersebut berkaitan pula dengan doktrin pembagian kekuasaan
versus pemisahan kekuasaan. Sebelum diadakan perubahan UUD 1945,
kedaulatan rakyat dilaksanakan sepenuhnya oleh MPR, sebagai penjelmah
seluruh rakyat. Dari lembaga tertinggi inilah, kekuasaan dari rakyat itu
dibagi-bagikan kepada lembaga-lembaga tinggi negara yang lainnya secara
distributif. Oleh karena itu paham yang dianut bukan pemisahan kekuasaan
melainkan pembagian kekuasaan secara vertikal atau biasa dikenal dengan
istilah “distribution of power”.
Jelaslah bahwa sistem penyelenggaraan pemerintahan di negara kita
setelah amandemen Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik
Indonesia Tahun 1945, tidak lagi melakukan sistem pembagian kekuasaan
“distribution of power” melainkan telah melakukan dengan sistem
pemisahan kekuasaan atau yang dikenal dengan “separaticion of power”.
Dalam prinsip pemisahan kekuasaan yang dianut dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 disertai dengan penerapan
prinsip hubungan saling mengawasi dan mengimbangi antar lembaga negara,
kekuasaan legislatif dipegang oleh DPR dan DPD. DPR memiliki fungsi
legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan yang berkaitan dengan
pemerintahan. DPR memegang kekuasaan membentuk UU, namun demikian,
setiap Rancangan Undang-Undang (RUU) harus dibahas dan mendapat
persetujuan bersama antara
DPR dan Presiden sehingga terdapat
keseimbangan. Sedangkan DPD hanya dapat mengajukan RUU yang
berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pemekaran
daerah, pengelolah sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya.
Dalam hubungannya dengan kekuasaan eksekutif dipegang oleh
Presiden, namun harus dijalankan menurut ketentuan Undang-Undang Dasar
dan sesuai peraturan perundang-undangan lainnya. Disamping itu prinsip
saling mengawasi dan mengimbangi, Presiden juga berhak mengajukan RUU
kepada DPR.
Berkaitan dengan kekuasaan yudikatif adalah kekuasaan kehakiman
sebagai kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna
menegakkan hukum dan keadilan, dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung
dan Badan peradilan dibawahnya dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji
peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang terhadap UU, dan
mempunyai kewenang lainnya yang diberikan oleh UU. Pengujuan terhadap
peraturan perundang-undangan di bawah UU adalah bentuk pengawasan dan
untuk mengimbangi kewenangan peraturan yang dimiliki oleh eksekutif.
Sedangkan Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama
dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang
terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga
negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar,
memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil
pemilihan umum.
Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas
pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh
Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut Undang-Undang
Dasar.
Sedangkan Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan
pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka
menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku
hakim. Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan
pengalaman di bidang hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang
tidak tercela. Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh
Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Susunan,
kedudukan, dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang
[Profile] Atsuko Maeda - Anggota AKB48 Team A
Atsuko Maeda . Yuk kenalan lebih dekat dengan Atsuko Maeda.

Selain
dikenal sebagai aktris, Maeda lebih dahulu dikenal sebagai anggota
salah satu grup idol Jepang yang baru - baru ini memecahkan rekor, AKB48.
Maeda-chan lahir di Ichikawa Chiba, 10 Juli 1991. Maeda mulai bergabung
dengan Akihabara48 setelah mengikuti audisi dan lulus pada 30 Oktober
2005. Maeda yang memiliki nama panggilan Acchan ini merupakan salah satu
dari 20 anggota pertama AKB48 yang naik ke panggung pertunjukan pertama
mereka di Teater AKB48 pada 8 Desember 2005. Acchan merupakan anggota
tim A dan paling populer di antara anggota AKB48 lainnya. Ia bahkan
terpilih sebagai favorit pertama saat pemilihan anggota senbatsu
di tahun 2009 dan 2011. Awalnya ia tidak berfikir untuk menjadi seorang
idol. Ia hanya ingin menjadi sama dengan penyanyi favoritnya, Kou Shibasaki. Bahkan ia menyanyikan lagu milik Kou, "Glitter" saat audisi AKB48.
Karena
jumlah anggota AKB48 banyak, maka saat awal kemunculan mereka membuat
penggemar bingung membedakan anggota AKB48. Oleh karena itu, produser
AKB48 berupaya menjadikan salah satu anggota AKB48 sebagai pusat
perhatian. Akhirnya di bulan April 2006, Acchan terpilih menjadi pusat
perhatian AKB48 dengan cara meminta Acchan menyanyikan lagu secara solo
berjudul "Nagisa no Cherry". Namun awalnya Acchan sempat ngambek saat
berada di studio rekaman karena ia hanya bernyanyi sendirian, wkwkwk....

Karier akting Acchan dimulai di tahun 2007. Saat itu ia ikut bermain dalam 2 judul layar lebar, Ashita no Watashi no Tsukurikata a.k.a How To Become Myself dan Densen Uta a.k.a The Suicide Song.
Dalam film Atashi no Watashi no Tsukurikata, ia harus rela memotong
rambutnya yang panjang sebahu menjadi pendek dan berperan sebagai Hinako
Hanada. Selain dua film diatas, ia juga ikut bermain dalam drama yang
ditayangkan di Fuji TV berjudul Swan no Baka! "Kozukai 3-man En no Koi. Drama ini ditayangkan mulai 16 Oktober hingga 18 Desember 2007.
Di
akhir tahun 2007, Acchan bersama AKB48 tampil pertama kali dalam acara
malam tahun baru NHK Kouhaku Uta Gassen. Saat itu AKB48 tampil sebagai
wakil budaya "Akiba".
Acchan
kembali berakting di tahun 2008. Di tahun ini, ia ikut terlibat dalam 2
judul drama dan sebuah judul film. Judul drama pertama di tahun 2008, Shiori to Shimiko no Kaiki Jikenbo.
Drama ini ditayangkan oleh stasiun Nippon TV mulai 5 Januari hingga 29
Maret 2008. Di drama ini ia berperan sebagai Shimiko dan berbagi peran
utama dengan Nao Minamisawa yang berperan sebagai Shiori. Drama kedua yang ikut dibintanginya tayang saat musim panas berjudul Toiyou to Umi no Kyoushitsu a.k.a Homeroom on the Beachside.
Dalam drama yang ditayangkan Fuji TV 21 Juli hingga 22 September 2008
ini, Acchan berperan sebagai Hayu Yunaki. Sedangkan film yang ikut
dibintanginya berjudul Nasu Shonenki. Film ini dirilis pada 4
Oktober 2008 yang menceritakan tentang seorang anak berusia 14 tahun dan
bersetting tahun 1954 di kota Nasu Prefektur Tochigi.

Saat pemilihan anggota senbatsu
untuk singel ke-13 AKB48 yang berlangsung dari Juni hingga Juli 2009,
Acchan terpilih sebagai anggota favorit urutan pertama. Selain itu,
gadis yang memiliki tinggi 160cm ini juga ikut menjadi cameo dalam drama
Kochira Katsushika-ku Kameari Kouen-mae Hashutsujo. Drama ini ditayangkan oleh TBS dan episode dimana Acchan menjadi cameo ditayangkan pada tanggal 12 September 2009.
TV Tokyo menayangkan drama yang dibintangi para anggota AKB48 berjudul Majisuka Gakuen di awal tahun 2010. Drama yang tayang 8 Januari hingga 26 Maret ini menceritakan tentang para yankee. Drama selanjutnya yang dibintangi Acchan di tahun 2010 adalah Ryomaden. Drama yang berkisah tentang kisah hidup Sakamoto Ryoma
ini ditayangkan oleh NHK mulai 3 Januari hingga 28 November 2010. Dalam
drama ini, Acchan berperan sebagai Sakamoto Harui. Drama berikutnya
menjadikan Acchan sebagai pemeran utamanya. Drama berjudul Q10
ini berkisah tentang seorang robot android cantik. Acchan berperan
sebagai Karen Kuto atau Q10. Drama ini ditayangkan di NTV 16 Oktober
hingga 10 Desember 2010.
Di tahun 2010, Acchan gagal mempertahankan posisinya sebagai anggota terfavorit saat pemilihan anggota senbatsu untuk singel ke-17 AKB48. Ia dikalahkan oleh Yuko Oshima dan berada di posisi kedua.

Di tahun 2011, Acchan kembali mendapat peran utama. Kali ini ia menjadi pemeran utama dala film Moshi Koko Yakyu no Joshi Manager ga Drucker no Management wo Yondara a.k.a Moshidora a.k.a Drucker in The Dug-Out.
Di film ini, ia berperan sebagai Minami Kawashima, seorang pelajar SMU
yang menjadi manajer tim baseball. Film ini dirilis 4 Juni 2011. Lagu
tema film ini menggunakan lagu milik AKB48, "Everyday, Katyusha". Selain
menggunakan lagu milik AKB48, Acchan juga menyumbangkan suaranya dengan
menyanyikan lagu "Flower" sebagai lagu sisipan dalam film ini. Flower
menjadi singel solo pertama Acchan dengan label King Record. Lagu ini
bahkan terjual 177.000 kopi dalam waktu seminggu pertama dirilis dan
menempati urutan pertama Oricon pada 4 Juli 2011. AKB48 juga
mengeluarkan film dokumenter mereka di tahun 2011. Film berjudul Documentary of AKB48 : To Be Continued ini dirilis 22 Januari 2011 dan tiap anggota memainkan diri mereka sendiri.

Maeda @Majisuka Gakuen

Maeda @Majisuka Gakuen
Selain
ikut bermain dalam film, Acchan juga terlibat dalam 3 judul drama. TV
Tokyo kembali menayangkan sekuel Majisuka Gakuen yang ditayangkan tahun
sebelumnya. Tahun 2011, mereka kembali menayangkan sekuelnya, Majisuka Gakuen 2
pada 15 April hingga 1 Juli 2011. Dalam drama ini, Acchan tetap
memerankan perannya terdahulu, hanya perbedaannya jika dalam Majisuka
Gakuen ia memakai kacamata, dalam sekuelnya ia mengganti kacamata dengan
lensa kontak. Sebelum Majisuka Gakuen dirilis, Acchan telah bermain
dalam drama yang ditayangkan NTV. Drama berjudul Sakura Kara no Tegami "AKB48 Sorezore no Sotsugyou Monogatari ini tayang 26 Februari hingga 6 Maret 2011. Drama selanjutnya Marumo no Okite
yang ditayangkan Fuji TV. Dalam drama ini, Acchan hanya bermain dalam
episode terakhirnya yang tayang 3 Juli 2011. Drama selanjutnya juga
ditayangkan Fuji TV. Drama ini merupakan sekuel dari Hanazakari no
Kimitachi e. Dalam drama prekuel empat tahun sebelumnya pemeran utama
wanitanya diperankan oleh Maki Horikita. Sedangkan untuk sekuelnya Acchan diberi kesempatan untuk memerankan Mizuki Ashiya dalam Hanazakari no Kimitachi e "Ikemen Paradise 2011". Sedangkan pemeran Izumi Sano diperankan oleh Aoi Nakamura.
Lewat drama ini pula ia menjadi anggota AKB48 pertama yang membintangi
serial drama dalam waktu tayang utama. Drama Hanakimi "Ikemen Paradise
2011" ini ditayangkan 10 Juli hingga 18 September 2011.
Acchan kembali mendapat posisi terfavorit saat pemilihan anggota senbatsu untuk singel ke-22 AKB48 mengalahkan Yuko Oshima.

Tahun
2012, AKB48 kembali mengeluarkan film dokumenter mereka. Film ini
merupakan lanjutan dari film yang telah dirilis tahun sebelumnya dan
berjudul Documentary of AKB48 : The Show Must Go On. Film ini dirilis 27 Januri 2012 lalu. Film kedua yang dibintanginya berjudul Kueki Ressha.
Dalam Kueki Ressha, gadis yang bergolongan darah A ini berperan sebagai
Yasuko. Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Kenta Nishimura
dan dipublikasikan pada 26 Januari 2011. Novel ini juga memenangkan
Akutagawa Prize, namun peran yang dimainkan Acchan sebenarnya tidak ada
dalam novel tersebut. Lho jadi gimana? Kueki Ressha belum dirilis, namun
dijadwalkan akan rilis tahun ini.
Sedangkan untuk drama, Acchan ikut bermain dalam Saikou no Jinsei no Owarikata ~ Ending Planner ~. Drama ini dibintangi oleh Yamapi
yang berperan sebagai kakak Acchan. Mereka berdua akan saling bahu
membahu menjalankan bisnis keluarga. Penasaran? Jangan sampai
ketinggalan sinopsisnya di Pelangi Drama ya..
Di
penghujung Maret 2012, Acchan membuat sebuah pengumuman yang sangat
mengejutkan bagi anggota AKB48 dan fans. Di malam terakhir konser AKB48'
Gyoumu Renraku Tanomu zo, Kayatama-buchou! yang diadakan di Saitama
Super Arena tanggal 25 Maret 2012 lalu, Acchan mengumumkan kelulusannya
dari AKB48. Meskipun tanggal kelulusannya belum dipastikan, namun
pengumuman Acchan ini membuat semua fans dan terlebih anggota AKB48
sangat bersedih. Acchan telah bergabung dengan AKB48 sejak ia berusia 14
tahun dan ia berkata saat ini dirinya ingin meraih mimpi lainnya di
luar AKB48 dan memberi kesempatan bagi para juniornya. Pihak manajemen
Akihabara sendiri telah mengumumkan berita ini lewat akun google+
mereka. Hiks..hiks.. Yang pasti sedih mendengar kelulusan Acchan dari
AKB48, namun jika hal ini merupakan keputusan yang terbaik yang dipilih
Acchan untuk masa depannya, para fans tentunya akan selalu memberikan
support untuk Acchan dan AKB48 bukan? Sukses selalu Acchan, ditunggu
project selanjutnya dari Acchan.
Kesehatan Dalam Buah Kiwi
Manfaat ini diperkuat penelitian terbaru Riddet Institute, Massey University, dan Zespri International Ltd. Enzim actinidin dalam kiwi mampu melunakkan daging atau asupan protein lain sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh.
“Jika protein sudah diserap dengan baik, maka akan memberikan manfaat sebagai zat pembangun, mengganti sel-sel yang rusak, dan menjaga metabolism agar tetap berjalan baik,” tukas Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, MSc. MS. Sp.GK di Media Workshop Zespri Kiwi Fruit bertajuk “Actinidin, Enzim Penting untuk Pencernaan Sehat, Vitalitas, dan Daya Tahan Tubuh”.
Tak cukup sampai di situ, kandungan serat dalam buah kiwi pun dinilai cukup tinggi sehingga dapat menstabilkan atau menetralisir kadar gula dan lemak dalam darah. Pasalnya, serat larut yang terkandung dalam buah kiwi berfungsi untuk menjaga penyerapan karbohidrat dan lemak sehingga penyerapan kadar gula dan lemak dalam darah lebih terkontrol.BlackBerry Curve 8530 (ARIES) Gemini CDMA
Spesifikasi :
GENERAL 2G Network CDMA 800 / 1900
3G Network CDMA2000 1xEV-DO
Dikenalkan 2009, November
Ukuran 109 x 60 x 13.9 mm
Berat106 g
Keyboard QWERTY
DISPLAY Type TFT, 65K warna
Size 320 x 240 pixels, 2.46 inches (~163 ppi pixel density)
- Touch-sensitive optical trackpad
SOUND Alert types Vibration; Polyphonic(32), MP3 ringtones
3.5mm jack
- Dedicated music keys
MEMORY Card slot microSD, up to 32GB, buy memory
Internal 256 MB ROM
Speed Rev. 0, up to 153.2 Kbps
WLAN Wi-Fi 802.11 b/g
Bluetooth Yes, v2.1 with A2DP
USB Yes, microUSB
CAMERA 2 MP
Features Geo-tagging
FEATURES OS BlackBerry OS 5.0
CPU 528 MHz
GPS Yes, with A-GPS support
- BlackBerry maps
- MP3/eAAC+/WMA/WAV player
- MP4/H.263/H.264/WMV player
- Organizer
- Document viewer
- Voice memo/dial/commands
- Predictive text input
BATTERY Standard battery, Li-Ion 1150 mAh
Stand-by Up to 252 h
Talk time Up to 4 h 30 min
GENERAL 2G Network CDMA 800 / 19003G Network CDMA2000 1xEV-DO
Dikenalkan 2009, November
Ukuran 109 x 60 x 13.9 mm
Berat106 g
Keyboard QWERTY
DISPLAY Type TFT, 65K warna
Size 320 x 240 pixels, 2.46 inches (~163 ppi pixel density)
- Touch-sensitive optical trackpad
SOUND Alert types Vibration; Polyphonic(32), MP3 ringtones
3.5mm jack
- Dedicated music keys
MEMORY Card slot microSD, up to 32GB, buy memory
Internal 256 MB ROM
Speed Rev. 0, up to 153.2 Kbps
WLAN Wi-Fi 802.11 b/g
Bluetooth Yes, v2.1 with A2DP
USB Yes, microUSB
CAMERA 2 MP
Features Geo-tagging
FEATURES OS BlackBerry OS 5.0
CPU 528 MHz
GPS Yes, with A-GPS support
- BlackBerry maps
- MP3/eAAC+/WMA/WAV player
- MP4/H.263/H.264/WMV player
- Organizer
- Document viewer
- Voice memo/dial/commands
- Predictive text input
BATTERY Standard battery, Li-Ion 1150 mAh
Stand-by Up to 252 h
Talk time Up to 4 h 30 min
JAWABAN IMAN J-ROCKS TENTANG PLAGIAT LARUKU!!!!!!!!!!!!! ·
lihat dulu baru koment
halo semuanya..gw udah liat thread ini dari awal sampe yg terakhir. sebelumnya terima kasih atas kritik dan saran kalian semua. semuanya saya tampung kok. sebelumnya begini..saya selalu perduli kok dengan kritik2 kalian dan saya selalu mau mendengarkan. tapi disini permasalahannya adalah masih bnyk yg belum tau perbedaan atau batas antara menjiplak dengan terinfluence.
klo menjiplak atau plagiat dari segi musikalitas adalah misalkan ada lagu gw yg lebih dari 8 bar aransemen musiknya, notasi atau melodi lagunya sama persis dengan laruku atau lagu siapalah, itu baru menjiplak dan gw gak akan ngelak dibilang plagiat. tapi permasalahannya disini lagu j-rocks tdk ada yg seperti itu. dari segi melodi lagu atau notasi lagu aja udah beda. walaupum ada yg mirip2 tapi itu sebenarnya hanya nuansanya aja, bukan notnya.
marilah kita lebih open minded lg. jgn terkungkung oleh kebencian jadinya makin ga obyektif. gw sebagai fans dari semua musisi2 legend didunia. dan menurut gw laruku jg sebagai legend. gak akan lah gw jiplak hasil karya mereka dan gw bilang itu hasil kreasi gw sendiri. haram hukumnya bagi gw. klo misalkan masih bnyk yg bertanya tanya sebenarnya yg bener gmana sih tentang plagiat itu? apakah JROCKS PLAGIATOR..??? atau ternyata emang bener terinfluence..??
misalkan seperti yg gw baca di thread ini ada yg bermaksud bikin acara tanya jawab, gw akan sangat bersedia sekali walaupun dengan resiko seperti yg gw baca yaitu dimaki2 lah nantinya, dicerca. tapi karena gw merasa ada sesuatu hal yg perlu gw luruskan tentang pemahaman ini. gw merasa wajib untuk membaginya kepada teman2 semua..mungkin nanti bisa hubungi manajemen J-ROCKS untuk hal ini dan gw dengan senang hati akan menerima tawarannya untuk melakukan diskusi. karena kalo lewat tulisan saja akan terasa sulit untuk menjelaskannya. terima kasih sebelumnya.
coba di telaah lagi. dari segi musik jrocks ga terinfluence sama laruku doang. jrocks bnyk terinfluence oleh musisi2 lain. salah satu contoh, byk yg bilang musiknya jrocks agak mirip muse ya. atau kayak musiknya queen ya..?? atau kayak musiknya penyanyi2 jadul jaman dulu ya..??? dan lain2. trus misalkan kmu bilang jrocks laruku sekali. plek2 laruku. salah besar!!. dari pendapat orang aja udah ketahuan klo jrocks bnyk mengadaptasi dari musik2 lain dan itu emang bener.
coba lebih objektif lagi deh. dengerin baik2 nadanya pasti gak akan sama persis sama lagu2nya laruku. malah bisa dibilang beda dan itu sudah survey ke para musisi2 yg jelas udah tau laruku. tapi mereka bisa objektif karena sebelumnya ada survei perbandingan. label sebesar aquarius tidak akan mau mengeluarkan atau menerbitkan artis/album yg bisa menyusahkan mereka sendiri. karena label sebesar mereka sudah pasti tau hukum dan jrocks pun tau hukum.
klo misalkan kmu bilang kok intronya selamat tinggal kekasihku mirip sama 4th avenue cave?? ya emang mirip. saya akuin, tapi gak sama. dan itu masih ga apa2. malah intronya jg mirip lagu potret yg salah. ini klo mau dicari2 kemiripannya. lagunya laruku yg felling fine, itu intronya sangat mirip sekali dengan intro lagunya ramones. dan itu ga2 pa2. sangat mirip padahal. nada flute di lagu niji sangat mirip sekali dengan lagunya LED ZEPPELIN. dan laruku ga dibilang plagiat. nada lagu hitomi no junin pas bagian chorusnya mirip bgt sama lagunya rick asthley. trus pas bagian orchestranya mirip bgt sama go go dols. lagu new world, dengerin intro gitar. progresi gitarnya mirip sama lagunya riff(lu tu ye). shout at the devilnya laruku mirip shout at the devilnya motley crue. progresi chordnya pieces mirip sama my way nya frank sinatra. malah lagu 4th avenue cafe itu aslinya adalah lagu jazz jadul jaman dulu. intronya ready steady go itu mirip bngt sama lagunya RANCID. revelation itu sangat marilyn manson sekali dan masih bnyk lagi klo mau dicari2.
dari segi stylenya jrocks..kenapa saya pake make up??? trus klo saya pake make up berarti saya adalah plagiatnya Hyde?? trus gmana nasibnya musisi2 jadul era glam rock??? berarti semua musisi2 yg pake make up adalah plagiatnya Haido dong..?? trus dari pakaian..klo saya pake baju ga ada lengan berarti saya plagiatnya Hyde..?? trus gmana nasibnya vokalisnya IRON MAIDEN..?? musisi2 lain yg pake baju tanpa lengan jg. gmana nasib mereka..?? berarti semua musisi yg pake baju tanpa lengan adalah plagiatnya haido dong..?? padahal maksudnya pake baju itu tuh biar lebih bisa bebas bergerak. trus rambut yg agak mohawk saya tapi acak2an atasnya, itu aja dibilang ngikutin hyde. padahal rambut mohawk udah berapa juta juta orang yg make dan saya pun jaman smp-sma aja sering mohawk. dan saya aja waktu pngn digituin rambutnya bukan karena ngeliat hyde..tapi ngeliat gambar cewek trus sama stylistnya dikembangin lagi. ini bukan ngeles loh. ini beneran. coba kalian cari david sylvian. kalian nonton nirvana. kalian nonton band2 era glam rock. kalian nonton david bowie. kalian nonton aja deh atau dengerin lebih byk musik lagi, pasti dari situ akan mendapat kesimpulan.
sori nih lagi buru2, nanti2 disambung lagi ya. intinya saya jg ngefans kok sama laruku dan band jepun lainnya. malah saya dari thn 95 udah berusaha ngeracunin orang2 dengan musik2 jepun. terutama laruku dan saya seneng bgt akhirnya musik genre ini bisa mulai diterima di masyarakat indonesia. tapi semua itu harus didukung dengan pikiran terbuka dari teman2 semua karena klo ga begitu musik di indonesia ga akan berkembang. ok. pokoknya tetap open minded. jgn cepat terbawa hawa kebencian. lebih jujur aja, tanya kepada hati sanubari kalian. apakah hujatan, makian, cercaan dsbnya itu memang benar adanya..???
dulu laruku tuh cover bandnya dead end..and lo pada tau gak klo 3 albumnya laruku mirip sama albumnya dead end..trus hyde yg tuh dia jg morrie wannabe..morrie itu vokalisnya dead end..tetsu jg dandanannya,gayanya,ya mirip sama basisnya dead end..udah deh loe2 orang sebelum ngehina orang lain lebih baik perbanyak dulu deh wawasan bermusiknya..:)..no offence ya..gw cuma membagi sedikit informasi aja..wasalam.
halo semuanya..gw udah liat thread ini dari awal sampe yg terakhir. sebelumnya terima kasih atas kritik dan saran kalian semua. semuanya saya tampung kok. sebelumnya begini..saya selalu perduli kok dengan kritik2 kalian dan saya selalu mau mendengarkan. tapi disini permasalahannya adalah masih bnyk yg belum tau perbedaan atau batas antara menjiplak dengan terinfluence.
klo menjiplak atau plagiat dari segi musikalitas adalah misalkan ada lagu gw yg lebih dari 8 bar aransemen musiknya, notasi atau melodi lagunya sama persis dengan laruku atau lagu siapalah, itu baru menjiplak dan gw gak akan ngelak dibilang plagiat. tapi permasalahannya disini lagu j-rocks tdk ada yg seperti itu. dari segi melodi lagu atau notasi lagu aja udah beda. walaupum ada yg mirip2 tapi itu sebenarnya hanya nuansanya aja, bukan notnya.
marilah kita lebih open minded lg. jgn terkungkung oleh kebencian jadinya makin ga obyektif. gw sebagai fans dari semua musisi2 legend didunia. dan menurut gw laruku jg sebagai legend. gak akan lah gw jiplak hasil karya mereka dan gw bilang itu hasil kreasi gw sendiri. haram hukumnya bagi gw. klo misalkan masih bnyk yg bertanya tanya sebenarnya yg bener gmana sih tentang plagiat itu? apakah JROCKS PLAGIATOR..??? atau ternyata emang bener terinfluence..??
misalkan seperti yg gw baca di thread ini ada yg bermaksud bikin acara tanya jawab, gw akan sangat bersedia sekali walaupun dengan resiko seperti yg gw baca yaitu dimaki2 lah nantinya, dicerca. tapi karena gw merasa ada sesuatu hal yg perlu gw luruskan tentang pemahaman ini. gw merasa wajib untuk membaginya kepada teman2 semua..mungkin nanti bisa hubungi manajemen J-ROCKS untuk hal ini dan gw dengan senang hati akan menerima tawarannya untuk melakukan diskusi. karena kalo lewat tulisan saja akan terasa sulit untuk menjelaskannya. terima kasih sebelumnya.
coba di telaah lagi. dari segi musik jrocks ga terinfluence sama laruku doang. jrocks bnyk terinfluence oleh musisi2 lain. salah satu contoh, byk yg bilang musiknya jrocks agak mirip muse ya. atau kayak musiknya queen ya..?? atau kayak musiknya penyanyi2 jadul jaman dulu ya..??? dan lain2. trus misalkan kmu bilang jrocks laruku sekali. plek2 laruku. salah besar!!. dari pendapat orang aja udah ketahuan klo jrocks bnyk mengadaptasi dari musik2 lain dan itu emang bener.
coba lebih objektif lagi deh. dengerin baik2 nadanya pasti gak akan sama persis sama lagu2nya laruku. malah bisa dibilang beda dan itu sudah survey ke para musisi2 yg jelas udah tau laruku. tapi mereka bisa objektif karena sebelumnya ada survei perbandingan. label sebesar aquarius tidak akan mau mengeluarkan atau menerbitkan artis/album yg bisa menyusahkan mereka sendiri. karena label sebesar mereka sudah pasti tau hukum dan jrocks pun tau hukum.
klo misalkan kmu bilang kok intronya selamat tinggal kekasihku mirip sama 4th avenue cave?? ya emang mirip. saya akuin, tapi gak sama. dan itu masih ga apa2. malah intronya jg mirip lagu potret yg salah. ini klo mau dicari2 kemiripannya. lagunya laruku yg felling fine, itu intronya sangat mirip sekali dengan intro lagunya ramones. dan itu ga2 pa2. sangat mirip padahal. nada flute di lagu niji sangat mirip sekali dengan lagunya LED ZEPPELIN. dan laruku ga dibilang plagiat. nada lagu hitomi no junin pas bagian chorusnya mirip bgt sama lagunya rick asthley. trus pas bagian orchestranya mirip bgt sama go go dols. lagu new world, dengerin intro gitar. progresi gitarnya mirip sama lagunya riff(lu tu ye). shout at the devilnya laruku mirip shout at the devilnya motley crue. progresi chordnya pieces mirip sama my way nya frank sinatra. malah lagu 4th avenue cafe itu aslinya adalah lagu jazz jadul jaman dulu. intronya ready steady go itu mirip bngt sama lagunya RANCID. revelation itu sangat marilyn manson sekali dan masih bnyk lagi klo mau dicari2.
dari segi stylenya jrocks..kenapa saya pake make up??? trus klo saya pake make up berarti saya adalah plagiatnya Hyde?? trus gmana nasibnya musisi2 jadul era glam rock??? berarti semua musisi2 yg pake make up adalah plagiatnya Haido dong..?? trus dari pakaian..klo saya pake baju ga ada lengan berarti saya plagiatnya Hyde..?? trus gmana nasibnya vokalisnya IRON MAIDEN..?? musisi2 lain yg pake baju tanpa lengan jg. gmana nasib mereka..?? berarti semua musisi yg pake baju tanpa lengan adalah plagiatnya haido dong..?? padahal maksudnya pake baju itu tuh biar lebih bisa bebas bergerak. trus rambut yg agak mohawk saya tapi acak2an atasnya, itu aja dibilang ngikutin hyde. padahal rambut mohawk udah berapa juta juta orang yg make dan saya pun jaman smp-sma aja sering mohawk. dan saya aja waktu pngn digituin rambutnya bukan karena ngeliat hyde..tapi ngeliat gambar cewek trus sama stylistnya dikembangin lagi. ini bukan ngeles loh. ini beneran. coba kalian cari david sylvian. kalian nonton nirvana. kalian nonton band2 era glam rock. kalian nonton david bowie. kalian nonton aja deh atau dengerin lebih byk musik lagi, pasti dari situ akan mendapat kesimpulan.
sori nih lagi buru2, nanti2 disambung lagi ya. intinya saya jg ngefans kok sama laruku dan band jepun lainnya. malah saya dari thn 95 udah berusaha ngeracunin orang2 dengan musik2 jepun. terutama laruku dan saya seneng bgt akhirnya musik genre ini bisa mulai diterima di masyarakat indonesia. tapi semua itu harus didukung dengan pikiran terbuka dari teman2 semua karena klo ga begitu musik di indonesia ga akan berkembang. ok. pokoknya tetap open minded. jgn cepat terbawa hawa kebencian. lebih jujur aja, tanya kepada hati sanubari kalian. apakah hujatan, makian, cercaan dsbnya itu memang benar adanya..???
dulu laruku tuh cover bandnya dead end..and lo pada tau gak klo 3 albumnya laruku mirip sama albumnya dead end..trus hyde yg tuh dia jg morrie wannabe..morrie itu vokalisnya dead end..tetsu jg dandanannya,gayanya,ya mirip sama basisnya dead end..udah deh loe2 orang sebelum ngehina orang lain lebih baik perbanyak dulu deh wawasan bermusiknya..:)..no offence ya..gw cuma membagi sedikit informasi aja..wasalam.
KAMUS BESAR BAHASA ALAY
Rumah : Humz, Hozz, Uz
(Hozz..hozz..capek abis lari2)
Aja : Ja, Ajj (Ajj bacanya apa ya?)
Yang : Iank/Iang, Eank/Eang
(Lama-lama jadi eyang)
Boleh : Leh
Baru : Ru (Ru??? Apaan tuh?)
Ya/Iya : Yupz, Ia, Iupz, Yua, Ea
(sering dijumpai diTKP facebook)
Kok : KoQ, KuQ, Kog, Kug
Nih : Niyh, Niech, Nieyh
Tuh : Tuwh, Tuch
Deh : Dech, Deyh
Belum : Lom, Lum,lomz
Cape : Cppe, Cpeg (Tapee dee..)
habis: abizzz
Kan : Khan, Kant, Kanz (Shah Rukh
Khan???)
Manis : Maniezt, Manies
Cakep : Ckeppz
Keren : Krenz, Krent, Kyeent
(makin parah)
Kurang : Krang, Krank,ckalank
(Crank? Tambah ngga ngerti
daaah…)
Tau : Taw, Tawh, Tw
Bokep : Bokebb
Dulu : Duluw (Dulux aja biar bisa
ngecat kostku)
Sempat : S4 (S1, S2, S3, pinter bgt
ampe S4, ^_^)
Ini : Iniyh, Nc,nech (apa
hbungannya “ini” ama “Nc”??
WTF)
Ketawa : xixixi, haghaghag,,
wkowkowkwo (bacanya apa
coba tolong jelaskan, kan susah
dibaca)
Nggak : Gga, Gax, Gag, Gx
Hai : Ui (Apaan Ui? Universitas
Indonesia?)
SMS : ZMZ, XMX, MZ (oh god…ngga
ngerti dah)
Lagi : Ghiy, Ghiey, Gi (Gigi Loe
dah)
Apa : Pa, PPa,pha (PPa ???
Mamanya mana???)
Tapi : PPi (sama aja kaya yang
diatas, asem)
Sih : Siech, Sieyh, Ciyh,cehh
(nggak sekalian aja Syekh Puji)
Dong : Dumz, Dum (apa Dum-
dum?)
Reply : Repp (ini yang paling
sering ditemukan di dunia maya)
Halo : Alow (menurut kalian,
apakah kita teletubbies?
Berpelukaaaan..)
Sayang : Saiank, Saiang,
chaiank,taiankk (masih bs
diterima dah)
Lucu : Luthu, Uchul, Luchuw
(pacul kaleee…)
Khusus : Khuzuz (Cuma diganti
“z” doang)
Kalian : Klianz (klien kale…)
Add : Et, Ett (biasanya minta di
add facebooknya)
Banget : Bangedh, Beud, Beut
(sekalian aja baut sama
obengnya)
Misalnya : jadi misalna, misal’a,
misal.a (halah…)
Imut : Imoetz, Mutz,
muetzz,moetz (ngemut kaleee??)
Loh : Loch, Lochkz, Lochx (ini yg
buat aq jijay..)
Gitu : Gtw, Gitchu, Gituw
Salam : Lam (Lam..Lam..Lambemu)
Kenal : Nal (buset irit karakter
banget)
Buat : Wat, Wad (Wat the fuck aja
sekalian)
Cewek : Cwekz
Cowok : Cwokz
Karena/Soalnya : Coz, Cz (bhsa
inggris yg disalahgunakan)
Masuk : Suk, Mzuk, Mzug, Mzugg
(Oh God….)
Punya : Pya, P’y (kyk nama
tetanggaku si Pia deh)
Pasti : Pzt, pzty
Anak : Nax, Anx, Naq
Cuekin : Cuxin (ngga jelas…)
Curhat : Cvrht (ini bahasa rusia
apa?)
Terus : Rus, Tyuz, Tyz
(Aarrghhh…!!!)
Tiap : Tyap
Kalau : Kaluw, Klw, Low (oh
maann…)
Setiap : Styp
Main : Men (mens skalian, kyk
dtng bulan aja)
Paling : Plink, P’ling
Love : Luph, Luff, Loupz, Louphh
Makan : Mumz, Mamz, mamam
(ini mah spupuku umur 2th
sering ngomong gtu)
Yuk : Yuq, Yuqz, Yukz
Lupa : Lupz (kok bisa jd Lupz?
Darimana??)
Udah : Dagh, Uwdach
Kamu : Kamuh, Kamyu, Qmu,
Kamuwh (berbahasa
Indonesialah dgn baik dan benar
teman)
Aku : Akyu, Akuwh, Akku, (Asem)
Maaf : Mu’uv, Muupz, Muuv (itu
bacanya mulut harus
dimonyong-monyongin ya?)
Sorry : Cowwyy, Sowry,cowly
yach (WTF!!!)
Siapa : Sppa, Cppa, Cpa, Spa
(SPA?? Perawatan tubuh, mau
dong..)
Kakak : Kakagg
(Hozz..hozz..capek abis lari2)
Aja : Ja, Ajj (Ajj bacanya apa ya?)
Yang : Iank/Iang, Eank/Eang
(Lama-lama jadi eyang)
Boleh : Leh
Baru : Ru (Ru??? Apaan tuh?)
Ya/Iya : Yupz, Ia, Iupz, Yua, Ea
(sering dijumpai diTKP facebook)
Kok : KoQ, KuQ, Kog, Kug
Nih : Niyh, Niech, Nieyh
Tuh : Tuwh, Tuch
Deh : Dech, Deyh
Belum : Lom, Lum,lomz
Cape : Cppe, Cpeg (Tapee dee..)
habis: abizzz
Kan : Khan, Kant, Kanz (Shah Rukh
Khan???)
Manis : Maniezt, Manies
Cakep : Ckeppz
Keren : Krenz, Krent, Kyeent
(makin parah)
Kurang : Krang, Krank,ckalank
(Crank? Tambah ngga ngerti
daaah…)
Tau : Taw, Tawh, Tw
Bokep : Bokebb
Dulu : Duluw (Dulux aja biar bisa
ngecat kostku)
Sempat : S4 (S1, S2, S3, pinter bgt
ampe S4, ^_^)
Ini : Iniyh, Nc,nech (apa
hbungannya “ini” ama “Nc”??
WTF)
Ketawa : xixixi, haghaghag,,
wkowkowkwo (bacanya apa
coba tolong jelaskan, kan susah
dibaca)
Nggak : Gga, Gax, Gag, Gx
Hai : Ui (Apaan Ui? Universitas
Indonesia?)
SMS : ZMZ, XMX, MZ (oh god…ngga
ngerti dah)
Lagi : Ghiy, Ghiey, Gi (Gigi Loe
dah)
Apa : Pa, PPa,pha (PPa ???
Mamanya mana???)
Tapi : PPi (sama aja kaya yang
diatas, asem)
Sih : Siech, Sieyh, Ciyh,cehh
(nggak sekalian aja Syekh Puji)
Dong : Dumz, Dum (apa Dum-
dum?)
Reply : Repp (ini yang paling
sering ditemukan di dunia maya)
Halo : Alow (menurut kalian,
apakah kita teletubbies?
Berpelukaaaan..)
Sayang : Saiank, Saiang,
chaiank,taiankk (masih bs
diterima dah)
Lucu : Luthu, Uchul, Luchuw
(pacul kaleee…)
Khusus : Khuzuz (Cuma diganti
“z” doang)
Kalian : Klianz (klien kale…)
Add : Et, Ett (biasanya minta di
add facebooknya)
Banget : Bangedh, Beud, Beut
(sekalian aja baut sama
obengnya)
Misalnya : jadi misalna, misal’a,
misal.a (halah…)
Imut : Imoetz, Mutz,
muetzz,moetz (ngemut kaleee??)
Loh : Loch, Lochkz, Lochx (ini yg
buat aq jijay..)
Gitu : Gtw, Gitchu, Gituw
Salam : Lam (Lam..Lam..Lambemu)
Kenal : Nal (buset irit karakter
banget)
Buat : Wat, Wad (Wat the fuck aja
sekalian)
Cewek : Cwekz
Cowok : Cwokz
Karena/Soalnya : Coz, Cz (bhsa
inggris yg disalahgunakan)
Masuk : Suk, Mzuk, Mzug, Mzugg
(Oh God….)
Punya : Pya, P’y (kyk nama
tetanggaku si Pia deh)
Pasti : Pzt, pzty
Anak : Nax, Anx, Naq
Cuekin : Cuxin (ngga jelas…)
Curhat : Cvrht (ini bahasa rusia
apa?)
Terus : Rus, Tyuz, Tyz
(Aarrghhh…!!!)
Tiap : Tyap
Kalau : Kaluw, Klw, Low (oh
maann…)
Setiap : Styp
Main : Men (mens skalian, kyk
dtng bulan aja)
Paling : Plink, P’ling
Love : Luph, Luff, Loupz, Louphh
Makan : Mumz, Mamz, mamam
(ini mah spupuku umur 2th
sering ngomong gtu)
Yuk : Yuq, Yuqz, Yukz
Lupa : Lupz (kok bisa jd Lupz?
Darimana??)
Udah : Dagh, Uwdach
Kamu : Kamuh, Kamyu, Qmu,
Kamuwh (berbahasa
Indonesialah dgn baik dan benar
teman)
Aku : Akyu, Akuwh, Akku, (Asem)
Maaf : Mu’uv, Muupz, Muuv (itu
bacanya mulut harus
dimonyong-monyongin ya?)
Sorry : Cowwyy, Sowry,cowly
yach (WTF!!!)
Siapa : Sppa, Cppa, Cpa, Spa
(SPA?? Perawatan tubuh, mau
dong..)
Kakak : Kakagg
Subscribe to:
Posts (Atom)




